Thursday, November 23, 2017
Text Size

HIASILAH QURAN DENGAN MERDUNYA SUARAMU BUKAN SEBALIKNYA!

 

HIASILAH QURAN DENGAN MERDUNYA SUARAMU BUKAN SEBALIKNYA!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fiikum, saudaraku...Fenomena terkini dari bangsa Indonesia yang didalamnya kaya dengan budaya termasuk budaya mocopat, nembang dan nyinden lagu jawa bahkan lagu seriosa dengan berpakaian adat. Sepintas nampak kreatif tapi terlalu berlebihan kalau dikaitkan dengan lantunan Al-Quran.

Tulisan dibawah ini adalah mengajak kembali kepada apa yang seharusnya kita lakukan saat ini dalam menyikapi fenomena Al Quran di sandingkan dengan lagam sinden mocopat, di lantunkan seriosa layaknya konser mozart. Berikut keterangan dari para ulama ahli hadits berkaitan dengan hal tersebut. Hadits:

زَيِّنُوا أَصْوَاتَكُمْ بِالْقُرْآنِ

"Hiasilah Suara kalian dengan al-Quran."  DHOIF   (HR. Al-Hakim no. 2099, Ath-Thobroni dalam al-Mu'jamul Kabiir no. 11113, Abdurrazaq dalam Al-Mushonnaf no. 4176 , Hadits Munkar dan lafazhnya maqluub alias terbalik, lihat Silsilah Ahaadits ad-Dhoifah no. 5326)

Hadits hiasilah suara kalian dengan membaca al-Quran adalah pemahaman yang menyelisihi dalil hadits yang shohih karena hadits tersebut maqlub alias terbalik dan syadz menyelisihi dari hadits shohih berikut:

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

"Hiasilah al-Quran dengan Suara kalian."  SHOHIH   (HR. Abu Dawud no. 1468, Ibnu Majah no. 1342, An-Nasa-I no. 1015, Ahmad no. 18494, ad-Darimi no. 3543, Shohih, lihat Silsilah Ahaadits as-Shohihah no. 771)

Dan ada lanjutannya pula di dalam kitab al-Mustadrak oleh Imam Al-Hakim rahimahullah (wafat 405 H), hadits yang mulia:

فَإِنَّ الصَّوْتَ الْحَسَنَ يَزِيدُ الْقُرْآنَ حُسْنًا

"Sesungguhnya suara yang merdu itu akan menambah keindahan al-Quran. "  SHOHIH   (HR. Al-Hakim no. 2125, Shohih lihat Silsilah Ahaadits as-Shohihah no. 771)

Dan makna hadits diatas adalah:

زينوا القراءة بأصواتكمِ

"Hiasilah bacaan al-Quran dengan suara kalian." (Lihat Syarah Sunan Abi Dawud 12/177, oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abaad).

Oleh karena itu suara yang merdu itu untuk menghiasi al-Quran bukan al-Quran yang dijadikan hiasan bagi suaranya. Artinya al-Quran dipaksa dan dicocok-cocokan dengan lagu yang ingin dilantunkannya. Seperti fenomena yang terjadi ada yang dicocokin dengan lagam sinden mocopat ada juga yang dipaksa lantunan Al Quran dibuat seriosa di depan konser musik seperti layaknya nyanyian Gereja...Allahu Musta'an.

Syaikh Zainuddin Al-Munawi rahimahullah (wafat 1031 H) dalam kitabnya Faidhul Qadiir Syarh al-Jami' as-Shoghiir cet. Al-Maktabah at-Tijariyah al-Kubro 1356 H, menukilkan perkataan yang bagus dari At-Turbisyti:

هذا إذا لم يخرجه التغني عن التجويد ولم يصرفه عن مراعاة النظم في الكلمات والحروف فإن انتهى إلى ذلك عاد الاستحباب كراهة وأما ما أحدثه المتكلفون بمعرفة الأوزان والموسيقى فيأخذون في كلام الله مأخذهم في التشبيب والغزل فإنه من أسوأ البدع فيجب على السامع النكير وعلى التالي التعزير ِ

Seperti ini, jika lantunan-lantunan yang dipergunakan di saat membacanya tidak menyalahi aturan tajwid, dan tidak juga memalingkannya dari kesesuaian rangkaian kalimat dan huruf-hurufnya. Apabila sampai melakukan hal itu, maka suatu yang sunnah akan berubah menjadi sesuatu yang makruh. Adapun yang diada-adakan (lagu-lagu yang diada-adakan), orang-orang yang suka memberatkan diri untuk menekuni nada-nada musik (cengkok irama), lalu menyadurnya ke dalam Al-Quran sebagaimana mereka memainkannya ketika menyanjung dan merayu wanita adalah termasuk salah satu dari sekian bid'ah yang paling jelek. Wajib bagi orang yang mendengarkannya untuk mengingkari kemudian mencelanya.

وأخذ جمع من الصوفية منه ندب السماع من حسن الصوت وتعقب بأنه قياس فاسد وتشبيه للشيء بما ليس مثله وكيف يشبه ما أمر الله به بما نهى عنه

Sebagian kaum Sufi, dengan analogi dari hadits ini menyatakan sunnahnya menyimak suara yang indah. Namun ini dapat disanggah yaitu bahwa ini adalah analogi yang rusak dan penyerupaan sesuatu dengan sesuatu yang tidak serupa dengannya. Bagaimana mungkin mereka (berani) untuk menyamakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah (membaca al-Quran) dengan sesuatu yang dilarang oleh Allah (nyanyian). (end Faidhul Qadiir)

Ada pula orang yang memaksa panjangnya harokat agar sesuai dengan lagu dan irama yang diinginkannya, bahkan diulang-ulang ataupun dilengking panjangkan, sehingga tajwidnya porak poranda.

Al Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah (wafat 852 H) mengatakan dalam kitabnya Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori 9/92 cet. Darul Ma'rifah 1379 H:

وَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ فِي الترجيع قدرا زَائِدا على الترتيل فَعِنْدَ بن أَبِي دَاوُدَ مِنْ طَرِيقِ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ بِتُّ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ فِي دَارِهِ فَنَامَ ثُمَّ قَامَ فَكَانَ يَقْرَأُ قِرَاءَةَ الرَّجُلِ فِي مَسْجِدِ حَيِّهِ لَا يَرْفَعُ صَوْتَهُ وَيُسْمِعُ مَنْ حَوْلَهُ وَيُرَتِّلُ وَلَا يُرَجِّعُ

Yang Nampak jelas bagiku bahwa bacaan dengan tarji' ada nilai lebih dari sekedar membaca dengan tartil. Pada riwayat dari Ibnu Abi Dawud dari Jalan Abu Ishaq dari Alqamah, dia berkata, "Saya menginap di kediaman Abdullah bin Mas'ud. lalu beliau tidur, setelah itu beliau berdiri mengerjakan sholat dan beliau membaca bacaannya seperti layaknya seseorang yang membaca di masjid kampungnya. Beliau tidak mengeraskan bacaannya namun memperdengarkannya kepada yang ada disekitarnya dan membacanya dengan tartil namun tidak mentarji'

وَقَالَ الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي جَمْرَةَ : مَعْنَى التَّرْجِيعِ تَحْسِينُ التِّلَاوَةِ لَا تَرْجِيعَ الْغِنَاءِ لِأَنَّ الْقِرَاءَةَ بِتَرْجِيعِ الْغِنَاءِ تُنَافِي الْخُشُوعَ الَّذِي هُوَ مَقْصُودُ التِّلَاوَةِ

Syaikh Abu Muhammad Ibnu Abi Jamrah (wafat 699 H) berkata, "Makna tar'ji adalah membaguskan suara ketika melantunkan bacaan al-Qura-an ...bukan tarji' yang berarti melagukannya. Karena membaca al-Quran dengan tarji' yang dilagukan meniadakan kekhusyukan yang merupakan tujuan yang sebenarnya dari melantunkan al-Qur-an. (end nukilan Al-Hafizh)

قال الشيخ القاري : وَمَنْ تَأَمَّلَ أَحْوَالَ السَّلَفِ عَلِمَ أَنَّهُمْ بَرِيئُونَ مِنَ التَّصَنُّعِ فِي الْقِرَاءَةِ بِالْأَلْحَانِ الْمُخْتَرَعَةِ دُونَ التَّطْرِيبِ، وَالتَّحْسِينِ الطَّبِيعِيِّ، فَالْحَقُّ أَنَّ مَا كَانَ مِنْهُ طَبِيعَةً، وَسَجِيَّةً كَانَ مَحْمُودًا، وَإِنْ أَعَانَتْهُ طَبِيعَتُهُ عَلَى زِيَادَةِ تَحْسِينٍ وَتَزْيِينٍ لَتَأَثَّرَ التَّالِي وَالسَّامِعُ بِهِ، وَأَمَّا مَا فِيهِ تَكَلُّفٌ وَتَصَنُّعٌ بِتَعَلُّمِ أَصْوَاتِ الْغِنَاءِ، وَأَلْحَانٍ مَخْصُوصَةٍ فَهَذِهِ هِيَ الَّتِي كَرِهَهَا السَّلَفُ وَالْأَتْقِيَاءُ مِنَ الْخَلَفِ. جمع الوسائل في شرح الشمائل 2/115

Syaikh al-Mulaa Ali al-Qari (wafat th. 1014 H) dalam kitabnya Jam'ul Wasaail fi Syarh as-Syamaail 2/115 (cet. Mathba'ah Syarfiyah) berkata,

"Barangsiapa yang mau memperhatikan dengan seksama perilaku para ulama salaf, dia akan mengetahui bahwa mereka berlepas diri dari bacaan yang dibuat-buat dengan sekian banyak lantunan yang bid'ah dan tanpa dinyanyikan. Bacaan mereka adalah dengan membaguskan suara secara alamiyah. Yang benar adalah bahwa bacaan yang sifatnya alamiyah merupakan tabiat (sesuai dengan asal suaranya) adalah sesuatu yang terpuji dan itu "intonasi" alaminya akan membantunya untuk lebih memperbagus dan mengindahkan bacaannya agar yang melantunkannya dan juga yang mendengarnya dapat tersentuh (hatinya). Sedangkan bacaan yang terlalu dipaksakan dan dibuat-buat dengan mempelajari nada-nada lagu dan lantunan yang khusus maka inilah yang dibenci oleh ulama Salaf dan ulama khalaf yang bertaqwa.

Lebih lanjut lagi silahkan di rujuk tulisan Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam kitabnya Aslu Shifat Sholat an-Nabi 2/569 dan seterusnya.

Merujuk dari artikel yang pernah ada yaitu ada yang membawakan hadits yang takhrijnya kurang benar:

فقد روى الترمذي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: اقرءوا القرآن بلحون العرب وأصواتها، وإياكم ولحون أهل الكتاب والفسق، فإنه سيجيء بعدي أقوام يرجعون بالقرآن ترجيع الغناء والنوح لا يجاوز حناجرهم، مفتونة قلوبهم وقلوب الذين يعجبهم شأنهم.

Bacalah Alquran dengan lagu dan suara orang arab. Jauhilah lagu/irama ahlkitab dan orang orang fasiq. Nanti akan ada orang datang setelahku membaca Alquran seperti menyanyi dan melenguh, tidak melampau tenggorokan mereka. Hati mereka tertimpa fitnah, juga hati orang yang mengaguminya. (HR. Tarmidzi)

 DI SUNAN AT-TIRMIDZI TIDAK DIJUMPAI HADITS DENGAN LAFAZH DI ATAS,  yang benar adalah :

- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَابَانَ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِهْرَانَ الْجَمَّالُ، نَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، عَنْ حُصَيْنِ بْنِ مَالِكٍ الْفَزَارِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ شَيْخًا وَكَانَ قَدِيمًا يُكْنَى بِأَبِي مُحَمَّدٍ، يُحَدِّثُ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اقْرَءُوا الْقُرْآنَ بِلُحُونِ الْعَرَبِ وأَصْوَاتِها، وَإِيَّاكُمْ ولُحُونَ أَهْلِ الْكِتَابَيْنِ، وَأَهْلِ الْفسقِ، فَإِنَّهُ سَيَجِيءُ بَعْدِي قَوْمٌ يُرَجِّعُونَ بِالْقُرْآنِ تَرْجِيعَ الْغِنَاءِ وَالرَّهْبَانِيَّةِ وَالنَّوْحِ، لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، مفتونةٌ قُلُوبُهُمْ، وقلوبُ مَنْ يُعْجِبُهُمْ شَأْنُهُمْ

"Telah mengabarkan kepada kami (At-Thobroni) Muhammad bin Jaabaan (Muhammad bin Sa'id Jaaban – Majhuul Haal/Tidak dikenal keadaannya), telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Mihraan al-Jammaal (wafat 239 H, ثقة حافظtsiqah haafizh – terpecaya lagi banyak hafalannya), telah mengabarkan kepada kami Baqiyah bin Waliid (الكلاعي al-Kalaa'I , Shoduq Katsirut Tadliis – Kurang penguasaan haditsnya dan banyak mentadliskan/menyamarkan hadits –), dari Hushoin bin Malik al-Fazariy (مقبول makbuul – diterima haditsnya maksudnya hanya bisa diterima riwayatnya apabila ada penguat dari hadits yang lainnya), dia berkata, Aku telah mendengar dari Syaikh yang nama kunyahnya dulu Abu Muhammad (Tidak dikenal) dari Hudzaifah bin al-Yamaan, dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, bersabda, "Bacalah Alquran dengan lagu dan suara orang arab. Jauhilah lagu/irama ahli fasiq dan Ahli kitab (yahudi dan nasrani). Nanti akan ada orang datang setelahku, mereka membaca Al Quran seperti menyanyi, berirama kerahiban dan melenguh, tidak melampau tenggorokan mereka. Hati mereka ditimpa fitnah, juga hati orang yang mengaguminya."  SHOHIH   (HR. At-Thobroni dalam al-Mu'jamul Ausath no. 7223 dan al-Baihaqy dalam Syuabul Iman no. 2406, Dhoif lihat Dhoiful Jami' as-Shoghir no. 1067)

Dalam hadits tersebut terdapat penjelasan ringkas kedhoifan nya sebagai berikut :

ويظهر من سياق الحديث أن حصين بن مالك نفسه لم يعرفه، حيث يقول: ((سمعت شيخًا يكنى أبا محمد، يحدث عن حذيفة(( وقد صرح ابن الجوزي بجهالته، فقال ((هذا حديث لا يصح، وأبو محمد مجهول، وبقيّة يروي عن الضعفاء ويدلّسهم((

Dan nampak pada redaksi hadits bahwa Hushoin bin Malik sendiri tidak mengetahuinya, ketika dia berkata (Aku telah mendengar dari Syaikh yang nama kunyahnya Abu Muhammad mengabarkan dari Hudzaifah) dan Ibnul Jauzy telah menjelaskan tentang kemajhulan dari orang yang bernama Abu Muhammad dan berkata "Hadits ini tidak shohih dan Abu Muhammad adalah Majhul (tidak dikenal) dan Baqiyyah meriwayatkan dari para perawi yang dhoif dan mentadliskannya (tidak dapat diambil riwayatnya). (Lihat At-Tafsir min Sunan Sa'id bin Manshuur 1/250 tahqiq Dr. Sa'd bin Abdillah bin Abdil Aziz Alu Hamiid cet Dar as-Shomi'i th. 1417 H )

 FAWAID YANG BISA DIAMBIL : 

Allahu A'lam

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Abu Kayyisa,

Dubai UAE - Menyongsong Sore di ketinggian Deru Dubai, Kamis, 3 Sya'ban 1436 H/21 Mei 2015.

 

 

 

ARSIP ARTIKELs

Kajian Online UAE   

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran