Thursday, November 23, 2017
Text Size

Ih JOROK... KENCING KOK SAMBIL BERDIRI

 

Ih JOROK!!!.. KENCING KOK SAMBIL BERDIRI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, ...Kenapa ketika ada orang yang kencing sambil berdiri dicela? Bagaimana sih dalilnya? Mari Kita simak:

 HADITS PERTAMA  

Hadits pertama ini menceritakan bahwa zauj Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yaitu 'Aisyah radhiyallahu 'anha mengingkari kalau ada yang mengatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi pernah kencing sambil berdiri.

(Yang ada dalam kurung adalah penilaian dari Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah (wafat th. 852 H dalam kitabnya Taqribut Tahzhib)

Saudaraku yang semoga Allah melimpah keberkahan kepadamu....simaklah hadits mulia berikut:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ (بن إياس /ثقة حافظ/ 244) قَالَ: أَخْبَرَنَا شَرِيكٌ (بن عبد الله النخعي/ صدوق يخطىء كثيرا)، عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ شُرَيْحٍ (بن هاني الحارثي / ثقة)، عَنْ أَبِيهِ (شريح بن هاني بن يزيد / ثقة)، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَبُولُ قَائِمًا فَلَا تُصَدِّقُوهُ، مَا كَانَ يَبُولُ إِلَّا قَاعِدًا». وَفِي الْبَابِ عَنْ عُمَرَ، وَبُرَيْدَةَ، حَدِيثُ عَائِشَةَ أَحْسَنُ شَيْءٍ فِي الْبَابِ وَأَصَحُّ، وَحَدِيثُ عُمَرَ إِنَّمَا رُوِيَ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الْكَرِيمِ بْنِ أَبِي الْمُخَارِقِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنْ عُمَرَ، قَالَ: رَآنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُولُ قَائِمًا، فَقَالَ: «يَا عُمَرُ، لَا تَبُلْ قَائِمًا»، فَمَا بُلْتُ قَائِمًا بَعْدُ. وَإِنَّمَا رَفَعَ هَذَا الْحَدِيثَ عَبْدُ الْكَرِيمِ بْنُ أَبِي الْمُخَارِقِ، وَهُوَ ضَعِيفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ؛ ضَعَّفَهُ أَيُّوبُ السَّخْتِيَانِيُّ وَتَكَلَّمَ فِيهِ. وَرَوَى عُبَيْدُ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ عُمَرُ: «مَا بُلْتُ قَائِمًا مُنْذُ أَسْلَمْتُ»، وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الْكَرِيمِ، وَحَدِيثُ بُرَيْدَةَ فِي هَذَا غَيْرُ مَحْفُوظٍ، وَمَعْنَى النَّهْيِ عَنِ الْبَوْلِ قَائِمًا عَلَى التَّأْدِيبِ لَا عَلَى التَّحْرِيمِ وَقَدْ رُوِيَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: «إِنَّ مِنَ الْجَفَاءِ أَنْ تَبُولَ وَأَنْتَ قَائِمٌ»

Imam At Tirmidzi rahimahullah (wafat th. 279 H) berkata, "Telah menceritakan kepada kami Ali Bin Hujr (Bin Iyaas/tsiqah=terpercaya;hafizh=yang banyak hafalan,wafat 244 H) berkata, telah mengabarkan kepada kami Syarik (bin Abdillah an Nakhoi/shoduuq=benar=yaitu haditsnya tidak diterima kecuali ada penguatnya yukhti'=salahnya banyak) dari Al Miqdam bin Syuraih (bin Hani al Haritsi/tsiqah) dari Bapaknya (Syuraih bin Hani/tsiqah) dari Aisyah radhiallahu'anha ia berkata;

" Barangsiapa menceritakan kepada kalian bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam buang air kecil dengan berdiri maka janganlah kalian percayai, karena beliau tidaklah buang air kecil kecuali dengan duduk."
. Dia berkata; "Dalam bab ini ada juga hadits dari sahabat Umar, Buraidah dan Abdurrahman bin Hasanah." Abu Isa berkata; "Hadits Aisyah adalah yang paling baik dan paling shahih dalam bab ini, sedangkan hadits Umar diriwayatkan dari hadits Abdul Karim bin Abul Mukhariq, dari Nafi', dari Ibnu Umar, dari Umar, ia berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melihatku kencing dalam keadaan berdiri, kemudian beliau bersabda: "Wahai Umar, janganlah kamu kencing dengan berdiri, " maka setelah itu aku tidak pernah lagi kencing dengan berdiri." Abu Isa berkata; "Yang memarfu'kan hadits ini adalah Abdul Karim bin Abul Mukhariq, dan dia adalah seorang yang lemah menurut para ahli hadits. Abu Ayyub As Sikhtiyani juga telah melemahkan dan memperbincangkannya." Ubaidullah telah meriwayatkan dari Nafi', dari Ibnu Umar, ia berkata; Umar Radhiallahu 'anhu berkata; "Aku tidak pernah kencing dengan berdiri sejak aku masuk Islam." Dan hadits ini lebih shahih ketimbang hadits Abdul Karim, sedangkan hadits Buraidah dalam bab ini tidaklah mahfudz (terjaga)." Sedangkan makna larangan kencing berdiri adalah berkaitan dengan tatakrama, bukan larangan yang bersifat pengharaman. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata; "Sesungguhnya termasuk perangai buruk apabila kamu kencing dengan berdiri."  (SHOHIH   (HR. At Tirmidzi no. 12 dan An Nasa'i no. 29. Syaikh Al Albani mengatakan dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 201 bahwa hadits ini SHAHIH. Abu Isa yaitu At Tirmidzi mengatakan, "Hadits ini adalah hadits yang lebih bagus dan lebih shahih dari hadits lainnya tatkala membicarakan masalah ini.").

 HADITS KEDUA  

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah kencing sambil berdiri. Imam Al Bukhari rahimahullah (wafat 256 H) membawakan hadits ini dalam kitab shahihnya

بَابُ البَوْلِ قَائِمًا وَقَاعِدًا

Bab "Kencing dalam Keadaan Berdiri dan Duduk." 

حَدَّثَنَا آدَمُ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ حُذَيْفَةَ، قَالَ «أَتَى النَّبِيُّ صلّى الله عليه وسلم سُبَاطَةَ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا، ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ فَجِئْتُهُ بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ»

"Imam Al Bukhari rahimahullah berkata, "Telah menceritakan kepada kami Adam (آدم بن أبى إياس , Adam bin Abi Iyaas/tsiqah-ahli ibadah/wafat. 221 H) telah menceritakan kepada kami Syu'bah (بن الحجاج بن الورد :bin al-Hajaj bin al-Ward/Tsiqah-hafizh-ahli ibadah/ w. 160 H) dari Al A'masy ( -سليمان بن مهران Sulaiman bin Mihran/Tsiqah-Hafizh namun terkadang melakukan tadlis/w. 147 H) dari Abu Wa'il ( شَقِيْقُ بنُ سَلَمَةَ – Syaqiiq bin Salamah/tsiqah) dari Hudzaifah (bin Al-Yaman w. 36) berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi tempat pembuangan (tempat yang biasa untuk buang sampah) suatu kaum, beliau lalu kencing sambil berdiri. Kemudian beliau meminta air, maka aku pun datang dengan membawa air, kemudian beliau berwudhu."
 (SHOHIH   (HR. Al-Bukhari no. 224 dan Muslim no. 273 (73), Ibnu Majah no. 305, Abu Dawud no. 23, at-Tirmidzi no. 13).

Hadits ini tentu saja adalah hadits yang shahih karena disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim, "Hadits ini merupakan dalil bolehnya kencing sambil berdiri."

 HADITS KETIGA : 

Hadits berikut menunjukkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah kencing sambil duduk.

أَخْبَرَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ، عَنْ أَبِي مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ابْنِ حَسَنَةَ قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي يَدِهِ كَهَيْئَةِ الدَّرَقَةِ، فَوَضَعَهَا ثُمَّ جَلَسَ خَلْفَهَا، فَبَالَ إِلَيْهَا. فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: انْظُرُوا يَبُولُ كَمَا تَبُولُ الْمَرْأَةُ. فَسَمِعَهُ فَقَالَ: «أَوَمَا عَلِمْتَ مَا أَصَابَ صَاحِبَ بَنِي إِسْرَائِيلَ؟ كَانُوا إِذَا أَصَابَهُمْ شَيْءٌ مِنَ الْبَوْلِ قَرَضُوهُ بِالْمَقَارِيضِ، فَنَهَاهُمْ صَاحِبُهُمْ فَعُذِّبَ فِي قَبْرِهِ»

"Imam An Nasa-i rahimahullah (wafat 303 H) berkata, "Telah mengabarkan kepada kami Hannad bin As Sariy (tsiqah, w. 243 H) dari Abu Mu'awiyah (مُحَمَّد بْن خازم الضرير / Muhammad bin Khaazim al-Dhoriir/tsiqah-dituduh murjiah-paling hafal hadits dari al-A'masy/ w. 194 H) dari Al 'Amasy dari Zaid bin Wahab (al-Juhani/Tsiqah Jalil –terpercaya lagi punya kemuliaan/w. 96 H) dari Abdurrahman bin Hasanah (radhiallahu'anhu) dia berkata, " Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menemui kami, dan di tangan beliau ada sesuatu yang mirip perisai dari kulit. Beliau lalu meletakkannya dan duduk di belakangnya, kemudian buang air kecil ke arah perisai tersebut. Sebagian orang berkomentar, 'Lihatlah, beliau buang air kecil seperti perempuan! ' Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendengar ucapan tersebut, beliau berkata, 'Apakah kalian tidak tahu apa yang menimpa seorang Bani Israil?! Apabila seorang dari mereka terkena air kencing, mereka menggunting kain yang terkena kencing tadi, lalu temannya melarang mereka melakukan demikian, sehingga ia disiksa di kuburnya."  (SHOHIH   (HR. An Nasa'i no. 30, Ahmad no. 17758, dan Ibnu Hibban (Ta'liqathul Hisan) no. 3117. Syaikh Al Albani dalam Ta'liqatul Hisaan Ala Shohih Ibni Hibban no. 3117 mengatakan bahwa hadits ini shahih).

 HADITS KEEMPAT : 

Hadits berikut menunjukkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah kencing sambil duduk.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ أَبِي أُمَيَّةَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنْ عُمَرَ، قَالَ: " رَآنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبُولُ قَائِمًا، فَقَالَ: «يَا عُمَرُ لَا تَبُلْ قَائِمًا» فَمَا بُلْتُ قَائِمًا بَعْدُ

Imam Ibnu Majah rahimahullah (wafat th. 275) berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya (الذُّهْلِيُّ, tsiqah hafizh jalil/w.258 H) berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq (bin Hammam/tsiqah hafizh/ w.211 H) berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij (عبد الملك بن عبد العزيز Abdul Malik bin Abdul Aziz/tsiqah faqih fazhil namun mentadlis dan memursalkan hadits) dari Abdul Karim bin Abu Umayyah (عبد الكريم بن أبى المخارق Abdul Karim bin Abi al Mukhooriq, dhoif, w. 126 H) dari Nafi' (Maula Ibnu Umar/Tsiqah Tsabit w. 116 H) dari Ibnu Umar (w.73H) dari Umar (w. 23H) ia berkata;

"Ketika aku kencing dengan berdiri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihatku, maka beliau pun menegurku: "Wahai Umar, janganlah engkau kencing dengan berdiri." Maka semenjak itu aku tidak pernah kencing dengan berdiri lagi.
"  (DHOIF   (HR. At-Tirmidzi no. 12 dan Ibnu Majah no. 308, al-Hakim no. 661, DHOIF, Lihat Silsilah Ahaadits adh-Dhoifah 2/338)

Syaikh Al Albani rahimahullah (wafat 1421 H/1999) mengatakan di Silsilah Ahaadits adh-Dho'ifah 2/337,

وهذا سند ظاهره الصحة، فإن رجاله ثقات، لكنه معلول بعنعنة ابن جريج فإنه كان مدلسا، وقد تبين أنه تلقاه عن بعض الضعفاء

Dan sanad ini secara dhohirnya shohih dan perawi-perawi haditsnya tsiqah (terpercaya) namun ada cacatnya yaitu 'An-Anah' (seorang perawi mengambil hadits dengan lafazh عَنْ bukan dengan lafazh حَدَّثَنَا haddatsana – telah menceritakan kepada kami – ataupun أَخْبَرَنَا akhbarana – telah mengabarkan kepada kami – dan yang semisalnya karena kedua lafazh ini menunjukkan bahwa hadits diterima secara langsung oleh perawi hadits dari guru-gurunya) Ibnu Juraij karena beliau adalah seorang perawi yang melakukan tadlis (membawakan hadits dengan satu sanad agar orang mengira sanad tersebut lebih tinggi dari pada kualitas hakikinya) atau beliau adalah seorang Mudalis (perawi yang menyembunyikan sanad dari gurunya misal contoh A-B-C namun Cuma disampaikan bahwa A dapat dari C, B tidak disebutkan karena B dhoif, sehingga seolah-olah hanya diambil dari yang baik saja, dan contoh tadlis yang lain buanyaaak). Dan telah jelas bahwa dia mengambil hadits dari beberapa perawi yang dhoif.

Kemudian beliau rahimahullah melanjutkan,

وإذا عرفت ضعف الحديث فلا شيء في البول قائما إذا أمن الرشاش

DAN jika engkau telah mengetahui kedhoifan hadits tersebut

maka tidak mengapa kencing sambil berdiri JIKA AMAN DARI CIPRATANNYA.

Kemudian beliau rahimahullah melanjutkan,

وقد قال الحافظ في " الفتح ": " ولم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم في النهي عنه شيء ".

Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata di Al Fath ( Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhori) " Tidak ada dalil yang shohih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang larangan kencing sambil berdiri"

Kemudian beliau rahimahullah melanjutkan,

عن زيد قال: " رأيت عمر بال قائما ". وزيد هو ابن وهب الكوفي وهو ثقة كسائر من دونه، فالإسناد صحيح أيضا، ولعل هذا وقع من عمر رضي الله عنه بعد قوله المتقدم، وبعد ما تبين له أنه لا شيء في البول قائما.

Dari Zaid, 'Dia berkata, " Aku pernah melihat Umar kencing sambil berdiri" dan Zaid adalah Ibnu Wahb al-Kufi dan beliau adalah perawi yang tsiqah seperti perawi yang selainnya dan sanadnya shohih juga. Bisa jadi ini terjadi kepada Umar radhiallahu'anhu setelah ucapannya yang telah lalu (yaitu Aku tidak pernah kencing sambil berdiri setelah ditegur Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam) dan itu (kencing sambil berdiri dilakukan Umar radhiallahu'anhu) setelah jelas baginya bahwa tidak mengapa kencing sambil berdiri.

Mengenai ucapan Aisyah radhiallahu'anha: "Jangan kamu percaya kepada siapa saja yang menceritakan kepadamu bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam kencing sambil berdiri - HADITS PERTAMA - seolah-olah berseberangan dengan HADITS KEDUA yaitu Hudzaifah radhiallahu'anhu pernah melihat dan menyaksikan beliau shallallaahu 'alaihi wasallam pernah kencing sambil berdiri. Kita tidak mengatakan bahwa 'Aisyah telah mengingkari hadits Nabi Shallallahu'alaihi wasallam. Ia hanya mengatakan sebatas apa yang ia lihat radhiallahu'anha. Sehingga disinilah kaidah fiqih:

الْحُكْمَ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ تَصَوُّرِهِ

Yang memiliki ilmu merupakan hujjah atas yang tidak memiliki ilmu (lihat Ushul Min Ilmil Ushul 1/83 cet. Daar Ibnul Jauzi 1426 H)

Maksudnya yaitu menghukumi sesuatu berdasarkan ilmu yang sampai kepadanya dan berdasarkan deskripsi penggambaran yang sampai kepadanya. Oleh karena itu Aisyah radhiallahu'anha mengatakan hal tersebut sesuai kondisi kenyataan/ilmu yang sampai kepadanya yaitu di dalam rumah beliau. Dan Hudzaifah radhiallahuu'anhu mengetahui apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam di luar rumah beliau. (Lihat Fathul Bari 1/330 cet. Daar Ma'rifah)

 HADITS KELIMA : 

Hati-hati dengan cipratan kencing karena dapat menyebabkan adzab kubur yang sangat pedih, termaktub dalam hadits mulia berikut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اسْتَنْزِهُوا مِنَ الْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bersihkanlah diri dari kencing. Karena kebanyakan siksa kubur berasal dari bekas kencing tersebut."  (SHOHIH   ) HR. Ad Daruquthni. No. 464, Shohih, lihat Irwaul Ghalil no. 280).

 FAWAID YANG BISA DIAMBIL : 

 CORETAN HATIKU: 

  • Al Haq menyapa batin dengan ramah
  • Jiwa pengecutku menghardik amarah
  • Membentengiku dari segala arah
  • Lisan ku bergumam jengkel nan parah
  • Melalaikan penat yang tak terperi
  • Berharap mulia dengan berdandan
  • Wahai sang pengencing berdiri
  • jauhi cipratan ke sekujur badan
  • Kemilau Jagad Indah tak terukur
  • Sujud tersungkur dengan hati bening
  • Mengisakkan tangis dalam syukur
  • mengundang khusyuk penuh hening
  • Bermimpi tertatih mengejar damba
  • Galau terbetik terkoyak punah
  • Kala ilmu dipetik seorang hamba
  • Hidupnya indah bersama As-Sunnah

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Abu Kayyisa,

Dubai UAE - Siang dhuhur turun menyapa, Kamis, 17 Rajab 1436 H/7 Mei 2015.

 

 

 

ARSIP ARTIKELs

Kajian Online UAE   

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran