Thursday, November 23, 2017
Text Size

Istriku…kuhadiahkan kepadamu "Toyota Camry Akhirat

 

Istriku…kuhadiahkan kepadamu "Toyota Camry Akhirat"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, Tulisan ini akan mengupas tuntas tentang "uneg-uneg" yang terbersit dari beberapa suami kepada istrinya yang telah "berjuang keras" dalam rangka mendampingi istrinya untuk menunaikan haji tahun 2014/1435 H. Namun "uneg-uneg" tersebut berlaku bagi semua orang yang berstatus suami. Jadi tidak dikhususkan bagi yang hendak menunaikan haji tahun ini saja. Uneg-uneg tersebut adalah harapan dari semua suami kepada istrinya. Dan juga faidah bahwa menunaikan Haji itu adalah 'Ala Faury' yaitu hendaknya bersegera tidak menunggu-nunggu ataupun menunda-nunda.

Terbersit untuk membuat kiasan dengan Toyota Camry karena itu adalah mobil mascot di UAE khususnya orang local. Taksi di UAE juga memakai Toyota Camry, namun mobil luxurius itu bukanlah barang yang murah ataupun sepele seperti kalo di Indonesia ada ungkapan, "Jangan beli jenis mobil yang dipakai buat taksi" wah itu ternyata salah total. Karena di UAE bukan gengsi ataupun mobil taksi, namun karena merek Toyota masih menjadi kebanggaan orang local uae, maka minimal standarnya mereka mempunyai camry. Sebagai informasi new camry tahun 2014 yang model kelas 2 harga kisarannya sekitar 90 Ribu Dhs atau setara dengan 287 Jutaan rupiah. Sedangkan kalau di Indonesia yang bisa punya mobil Camry adalah papan "sipit" keatas, atau kelas-kelas elit konglo-merassssss.

Itu adalah harga yang minimal untuk berangkat haji bagi sepasang suami-istri. Ada juga hamlah/agen haji yang mematok angka yang lebih fantastic yaitu 60K dhs. Sempat dalam hati ana bergumam mengkiaskan dengan yang lebih tinggi, "Kalo 60K seorang berarti 120K Aed dua orang…dapat mobil apa coba…". Jika dibandingkan tahun lalu biaya haji standar dari UAE adalah 33k Aed /orang jadi kalo sepasang suami istri akan mendapatkan "Corrolla akhirat". Tiap tahun ada kenaikan dari Toyota Corolla ke Camry…pertanyaan besarnya adalah tahun depan mobil akhirat apalagi yang mau dibeli…?

Dan biaya sebesar itu adalah diperuntukkan untuk menunaikan haji (standar) dari UAE bagi Suami Istri. Sebagai informasi se-standarnya haji dari UAE masih jauh ++ dibandingkan fasilitas yang didapat dari haji Plus Plus Indonesia yang harus nunggu lebih dari 2 tahun dan itupun tidak luput dari jurus tepu-tepu alias tipu-tipu.

Harga yang sangat fantastic itu tentunya untuk sebagian orang akan sangat mudah untuk berujar "UWAH...Mahalnya...ck ck ck" ada juga yang berujar "Wah kalo aku punya uang segitu, aku dah putar duitnya buat modal usaha…" ataupun "Hemm mendingan di tabung buat anak sekolah dulu, kalo anak-anak sudah gede semua ntar baru kita berangkat haji." Dan masih banyak lagi pendapat sebagian orang "yang menunda" untuk berangkat haji walaupun UANG, FISIK & KESEMPATAN ada bagi mereka.

Saudaraku yang semoga Allah senantiasa merahmatimu…Apa yang kita punya selama ini adalah kepunyaan Allah semata…apakah layak bagi kita untuk berlaku bakhil ? tidak mau membelanjakannya di jalan Allah ? kepemilikan yang sempurna adalah untuk Allah Dzat Yang Maha Kuasa.

wahai saudaraku simaklah ayat mulia berikut, Allah berfirman:

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

" Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. " (QS. Al-Baqarah : 284, An-Nisaa: 131 & 132)

Ayat yang lainnya:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

" Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Maidah: 120)

Ayat yang lainnya:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

"Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb Semesta Alam. tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS. Al-An'aam : 162-163)

Ketika seorang manusia ingat siapa dirinya sesungguhnya dan apa yang ia pakai hanyalah SEMENTARA tentunya ia tidak akan merasa gusar atau berat hati apabila apa yang ada ditangannya diambil lagi oleh Dzat Yang Maha Pecipta.

Subhanallah sesungguhnya "Uang banyak itu adalah Fitnah" dan sekiranya manusia ingin mengejar huruf "U" dari uang maka diapun akan menyesal kemudian hari sebagaimana akhir dari uang berakhiran "NG" yang dapat digunakan untuk kata "Nyesel Gue". Wahai saudaraku camkanlah nasehat indah dari hadits berikut:

عَنْ كَعْبِ بْنِ عِيَاضٍ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ.

Dari Shahabat Ka'ab bin 'Iyadh, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda,"Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah/ujian (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah/ujian (pada) umatku adalah harta."   Shohih  (HR. At-Tirmidzi no. 2336, An-Nasai dalam Sunan al-Kubro no. 11795, dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami' no. 2148)) 

Maksudnya, menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang merusak agama seseorang), karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta'ala dan membuatnya lupa kepada akhirat, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ

"Sesungguhnya, hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (bagimu)." (Qs. at-Taghabun: 15)

Efek super negatif lain yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta adalah sifat tamak/rakus dan ambisi untuk mengejar dunia, karena secara tabiat asal nafsu manusia tidak akan pernah merasa "PUAS" lagi "CUKUP" dengan harta dan kemewahan dunia yang dimilikinya, bagaimanapun berlimpahnya, kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah 'Azza wa Jalla.

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Dari Anas bin Malik, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda, "Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat."   Shohih  (HR. Al-Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048 (116)) 

Sifat rakus inilah yang akan terus memacunya untuk mengejar harta dan mengumpulkannya siang dan malam, dengan mengorbankan apapun untuk tujuan tersebut. Sehingga, tenaga dan pikirannya akan terus terkuras untuk mengejar ambisi tersebut, dan ini merupakan kerusakan sekaligus siksaan besar bagi dirinya di dunia.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

ومحب الدنيا لا ينفك من ثلاث: همّ لازم، وتعب دائم، وحسرة لا تنقضى

"kecintaan kepada dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan dan penderitaan): Kekalutan (fikiran) yang tidak pernah hilang, keletihan yang terus-menerus dan penyesalan yang tiada akhirnya." (Kitab Ighatsatul Lahfan, 1/37 cet. Maktabah Ma'arif Riyadh).

Benarlah Firman Allah Azza wa Jalla:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: 'Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?' Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (QS. Ali 'Imran: 14-15)

Ketahuilah saudaraku…Kebahagiaan dengan mendapatkan karunia berupa harta dan anak tidaklah sempurna, jika tidak dibarengi iman dan amal shalih yang akan menunjang kehidupan dan kebahagiaan dunia serta akhiratnya. Oleh karenanya, bagi seorang mukmin, kehidupan akhirat jauh lebih penting dan lebih utama daripada kehidupan dunia. Sehingga kesenangan yang dia rasakan di dunia tidak akan menjadi penyebab kelalaiannya untuk mengejar kehidupan yang lebih kekal dan kebahagiaan yang bersifat abadi di akhirat. Allah Azza Wa Jalla berfirman:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (Al-Kahfi: 46)

Syaikh Muhammad al-Amin bin Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi rahimahullah menerangkan:

تَنْبِيهُ النَّاسِ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ ; لِئَلَّا يَشْتَغِلُوا بِزِينَةِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْمَالِ وَالْبَنِينَ عَمَّا يَنْفَعُهُمْ فِي الْآخِرَةِ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْأَعْمَالِ الْبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ

"Yang dimaksud ayat yang mulia ini adalah peringatan kepada manusia agar senantiasa beramal shalih, agar mereka tidak tersibukkan dengan perhiasan kehidupan dunia berupa harta dan anak-anak, dari sesuatu yang memberi manfaat kepada mereka di akhirat di sisi Allah berupa amalan-amalan yang shalih." (Kitab Tafsir Adhwa`ul Bayan, 3/281, cetakan Darul Fikr, 1415 H).

ISTRIKU...AKU INGIN BISA MENEMANIMU UNTUK BERHAJI …TAPI KITA TUNGGU BONUS DARI PERUSAHAAN SAJA…LHO KOK ?

Berapa banyak teman-teman yang sudah Allah lapangkan rezkinya masih mengeluh, "Kalo haji tahun ini, ntar tabungannya habis dunk." Ada juga yang komentar kepada istrinya, "Sayangku, lebih baik kita nunggu bonus dari Perusahaan yah…kalo tahun ini undiannya dapat maka kita pergi haji tahun ini "….dan masih banyak lagi keluhan-keluhan dari orang-orang yang notabene "telah Allah lapangkan rezkinya" berkaitan dengan "menyisihkan harta untuk haji".

Mari kita simak latar belakang ataupun beberapa sebab kenapa hamba Allah yang sudah diberikan kelapangan rezki masih "bisa untuk menunda-nunda panggilan haji"

Saudaraku ketahuilah Syaitan akan menakut-nakuti orang yang bershodaqah dengan kemiskinan dan berkurangnya harta. Allah berfirman:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 268)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta'ala, " Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan",

Syaikh Muhammad al-Amin bin Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi rahimahullah menerangkan:

أَيْ: يُخَوِّفُكُمُ الْفَقْرَ، لِتُمْسِكُوا مَا بِأَيْدِيكُمْ فَلَا تُنْفِقُوهُ فِي مَرْضَاةِ اللَّهِ

Maksudnya yaitu: "Ia menakut-nakuti kalian dengan kefakiran supaya kalian tetap menggenggam tangan kalian, sehingga tidak menginfakkanya dalam rangka keridhaan Allah." (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/700 cet. Daar At-Thoyyibah 1420 H).

"Apabila seseorang bershodaqah maka syetan berkata kepadanya: 'Apabila kamu shodaqah hartamu pasti berkurang. Kamu punya 1000 dirham, apabila kamu shodaqahkan 10 dirham, maka hartamu tinggal 990 dirham. Jika hartamu berkurang, jangan bershodaqah. Setiap engkau shodaqah hartamu berkurang."

Camkanlah hadits mulia berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ»

Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam, beliau bersabda, "Sodaqah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu' (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya."   Shohih  (HR. Muslim no. 2588 (69), Ahmad no. 9008, at-Tirmidzi no. 2029 ) 

Nabi kita Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberitahukan bahwa sebenarnya shodaqah tidak mengurangi harta kita. Secara perhitungan, saat kita keluarkan memang berkurang. Tapi setelah itu shodaqah akan menambah hartanya, baik jumlah maupun berkah. Shodaqah akan menjadi kunci pintu rizki dan sebab bertambahnya. Maka apakah masih mungkin dikatakan bahwa shodaqah mengurangi rizki?

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (QS. Saba': 39)

Yakni Allah akan memberikan ganti kepadamu dengan lebih baik berupa harta yang disegerakan atau pahala di akhirat.

Al-Hafizh Ibnu katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat di atas:

أَيْ مَهْمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فِيمَا أَمَرَكُمْ بِهِ وَأَبَاحَهُ لَكُمْ، فَهُوَ يُخْلِفُهُ عَلَيْكُمْ فِي الدُّنْيَا بِالْبَدَلِ، وَفِي الْآخِرَةِ بِالْجَزَاءِ وَالثَّوَابِ

Maksudnya yaitu: "Ia menakut-nakuti kalian dengan kefakiran supaya kalian tetap menggenggam tangan kalian, sehingga tidak menginfakkanya dalam rangka keridhaan Allah." (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/700 cet. Daar At-Thoyyibah 1420 H).

Dalam hadits shohih:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda, Allah Azza wa Jalla berfirman, "Berinfaklah, Aku akan berinfak untuk kalian."   Shohih  (HR. Al-Bukhari no. 4684 dan Muslim no. 993) 

Dalam hadits mulia lainnya,

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَخِي، عَنْ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي مُزَرِّدٍ، عَنْ أَبِي الحُبَابِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Imam Al-Bukhori berkata, "Telah mengabarkan kepada kami, Ismail (Ismail bin Abi Uwais), dia berkata, telah mengabarkan kepadaku saudaraku (Abu Bakar bin Abi Uwais) dari Sulaiman (bin Bilal) dari Mu'awiyah bin Muzarrid dari Abu al-Hubaab dari Abu Hurairah, Sesungguhnya Nabi Shallallahu'alaihi wassalam telah bersabda, "Tiada hari melainkan pada pagi harinya ada dua malaikat yang turun. Lalu salah satunya berdoa: Ya Allah, berilah ganti untuk orang yang berinfaq. Sedangkan (malaikat) yang lain berdoa: Ya Allah timpakanlah kehancuran kepada orang yang kikir (tidak berinfaq)."   Shohih  (HR. Al-Bukhori no. 1442 dan Muslim no. 1010 (57), sanadnya dari Imam Al-Bukhori) 

Maksudnya orang yang didoakan untuk dihancurkan hartanya adalah orang yang menahan harta dari apa yang Allah wajibkan untuk mengeluarkannya. Karena tidak setiap orang yang menahan harta didoakan seperti itu. Tetapi orang yang menahan harta dari infak yang Allah wajibkan, itulah yang didoakan oleh malaikat bahwa Allah akan menghancurkannya dan menghancurkan hartanya.

Jadi pada hakekatnya ketika seseorang sudah mampu baik fisik maupun bekal harta namun masih menunda-nunda dengan alasan ia ingin menahan hartanya agar sampai pada suatu target yang kelak dapat membantunya untuk hidup mandiri maka itu adalah pemikiran yang "keliru" karena dengan menimbun harta yang ia punya tanpa disalurkan di "jalur yang benar" maka dia sudah menjerumuskan dirinya pada jurang kebinasaan.

Simaklah hadits mulia berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَادَ بِلَالًا، فَأَخْرَجَ لَهُ صُبْرًا مِنْ تَمْرٍ، فَقَالَ: «مَا هَذَا يَا بِلَالُ؟» قَالَ: ادَّخَرْتُهُ لَكَ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «أَمَا تَخْشَى أَنْ يُجْعَلَ لَكَ بُخَارٌ فِي نَارِ جَهَنَّمَ، أَنْفِقْ بِلَالُ، وَلَا تَخْشَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ إِقْلَالًا»

Dari Abu Hurairah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah mendatangi Bilal (Bilal bin Rabbah Radhiyallahu 'Anhu) maka Bilal menghidangkan bagi beliau setumpukan kurma, kemudian Rasulullah shallallahu'alaihi wassalam bertanya, "Apa ini wahai Bilal?", Bilal menjawab, "Sesuatu yang aku timbun untuk mu wahai Rasulullah.", kemudian Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda, "Apakah engkau tidak takut dijadikan bagimu uap di neraka jahanam (dengan sebab perbuatan menimbunnya) "Berinfaklah wahai Bilal! Dan janganlah kamu takut berkurang harta (menjadi fakir) dari Sang Pemilik Arsy (Allah)."   Hasan Shohih   (HR. Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman no. 3067 dan Al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir no. 1025 , dinilah Hasan Shohih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahaadits ash-Shohihah 6/348 dan Shohih at-Targhib wat Tarhiib no. 922) 

Lihatlah sosok seorang shahabat yang sederhana yaitu Bilal bin Rabbah radhiallahu'anhu, karena beliau menyadari bahwa beliau tidak mempunyai kecukupan harta untuk menyenangkan Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam maka ketika ada kesempatan untuk mengumpulkan kurma, beliau pun mengumpulkannya demi menyenangkan Rasululullah Shallallahu'alaihi wassalam. Namun ternyata apa yang beliau lakukan pun masih mendapat teguran dari Nabi Shallallahu'alaihi wassalam, yaitu "LARANGAN UNTUK MENIMBUN HARTA"…hartanya padahal "sepele" yaitu kurma, lalu bagaimana dengan "BOS-BOS" yang mempunyai rekening gemuk di BANKs ??? Teguran yang mana yang cocok bagi orang-orang yang menimbun hartanya untuk dunia semata...? Subhanallah...betul-betul kisah agung dari Sang Pendidik Sejati umat Islam.

Dari dalil-dalil diatas cukuplah bagi kita untuk meyakinkan diri kita bahwa apa yang ada ditangan kita adalah "TITIPAN" dan titipan itu harus dijaga dengan "CARA" yang benar dan amanah. Yang paling mudah dan simple adalah ketika waktu itu dianggap sebagai harta sebagaimana simbol orang "Sibuk" Time is Money…giliran waktunya untuk sholat ataupun membayar zakat bahkan waktunya untuk haji eh….pakai jurus mangkir….ironis betul. Allahu Musta'an.

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآَلِهِ وَسَلَّمَ : " يَقُولُ رَبُّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي ، أَمْلأْ قَلْبَكَ غِنًى ، وَأَمْلأْ يَدَيْكَ رِزْقًا ، يَا ابْنَ آدَمَ ، لا تَبَاعَدْ مِنِّي ، فَأَمْلأْ قَلْبَكَ فَقْرًا ، وَأَمْلأْ يَدَيْكَ شُغْلا

"Dari Ma'qil bin Yasaar radhiallahu'anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: "Rab kalian Tabaaraka wa Ta'ala, telah berfirman: 'Wahai anak Adam, gunakanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan rasa kecukupan dan memenuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam, janganlah engkau menjauh dari-Ku (karena apabila engkau melakukannya), niscaya Aku akan menjadikan hatimu penuh dengan kefakiran dan menjadikan kedua tanganmu penuh dengan kesibukan."   Shohih   (HR. al-Hakim, beliau menshohihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi IV/326 no. 7926 dishohihkan Syaikh Albani dalam Silsilah Ahaadits as-Shohihah III/347) 

Lebih detail tentang hadits diatas klik disini

Orang yang menunda-nunda haji padahal sudah diberikan kelapangan oleh Allah baik dari bekal, harta, dan kesempatan maka ia akan mendapatkan berbagai macam kesibukan (persoalan) yang tidak kunjung habisnya. Ada sebagian dari mereka berkilah, "Ah, jangan tahun ini lah, karena kasihan anak-anak masih kecil, ntar tunggu kalau mereka sudah dewasa..." atau ada juga yang beralasan, "Ntar aja berangkat hajinya, tunggu setahun lagi siapa tahu nanti dapat pekerjaan yang lebih baik gajinya..." dan masih buanyaaak lagi. Bisa jadi alasan-alasan menunda-nunda itu akan lebih dahsyat lagi efeknya ketika orang tersebut diberikan tambahan kesibukan dengan adanya amanah baru seperti anak baru, penyakit, pekerjaan, tempat tinggal, yang itu semua dapat lebih menyempitkan niatnya untuk menunaikan haji. Allahu Musta'an.

Dalam hadits dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma disebutkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ

"Dan Ketahuilah, seandainya umat berkumpul untuk memberikan kemanfaatan bagimu dengan sesuatu niscaya mereka tidak dapat memberikan kemanfaatan bagimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan sebaliknya, jika mereka semuanya berkumpul untuk memudaratkanmu dengan sesuatu niscaya mereka tidak dapat menimpakan kemudaratan tersebut kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran-lembaran (catatan takdir).   Shohih   (HR. At-Tirmidzi no. 2516, Lihat Shohih Jami'ush Shoghir no. 7957) 

Istriku…dari hadits tersebut aku meyakini seandainya aku membayangkan seluruh perusahaan besar dibawah ADNOC, ETISALAT, ETIHAD, ENOC, EMIRATES dan yang lainnya mereka sepakat untuk memberikan kepadaku "BONUS" agar aku berangkat haji maka jawabannya adalah "Sekiranya Allah berkehendak" maka pasti itu menjadi rezkiku dan apabila Allah tidak berkehendak maka tentunya itu belum menjadi rezkiku. Karena bisa jadi aku telah menerima uang, visa dan tiket untuk berangkat haji namun Allah berkehendak lain, tentunya tidak bisa terjadi dengan usaha sekuat apapun…Allahu Akbar…

HARAPANKU BAGI ISTRI TERCINTAKU.

Wahai istriku tersayang...

Setelah engkau melihat telaah detail tentang dalil-dalil dan nash-nash yang berkaitan dengan mengeluarkan harta dalam rangka untuk melakukan haji maka sekarang aku ingin mengemukakan seluruh uneg-unegku kepadamu….

Tak jarang engkau melihat diriku pergi ke tempat kerja dengan mata yang masih mengantuk dilanda capek, penat dan lesu... Begitu pula ketika aku selesai bekerja dan tiba di rumah... mataku merah dan mukaku kusut,…Tak jarang pula kau melihat ku memegang pinggang alias boyok karena harus duduk lama ataupun lama berkendara... Itu semua kualami setiap hari demi Allah yang telah memberikan ku tanggung jawab sebagai pemimpin mu. Sungguh rasa capek, penat dan lesu itu hilang ketika engkau berikan senyum mu yang "mengobati" seluruh kelelahanku.

Wahai istriku... Bantulah aku memperbaiki diriku tuk memperoleh ridho dari Sang Kholiq Yang Maha Pemberi Rezeki. Ketahuilah wahai istriku…harta yang selama ini kucari nafkah untukmu dengan membanting tulang dan memeras keringat lagi menelan stress yang tak kunjung padam dan aku yakin bahwa itu semua tidak akan bisa menjamin kita untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup kita bahkan tidak mampu pula menjamin bahwa kita dapat menapakkan kaki kita di Arafah untuk menjadi tamu Sang Khalik seraya berujar "Labaika Allahumma Labbaik"…

Aku yakin sepenuhnya bahwa harta itu adalah milik Allah, dan akan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu janganlah engkau gusar dan ragu untuk membantuku dalam memperbaiki bahtera rumah tangga kita…aku ingin menjadi hamba-Nya yang sholih dengan pendamping sepertimu …sosok yang aku cintai karena Allah, engkau adalah sosok yang aku berdoa dengan deraian air mata di sujudku memanjatkan keselamatan dan hidayah tercurah kepadamu…

Istriku...berikut ini adalah hadits mulia yang memantapkan cita-citaku untuk mengajakmu memenuhi panggilan haji bersama, dimana tidak ada lagi kekhawatiran dan keraguan akan hilangnya ataupun berkurangnya harta yang telah kita kumpulkan bersama-sama selama ini.

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ هِلَالٍ، عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، وَأَبِي الدَّهْمَاءِ، قَالَا: أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَقُلْنَا: هَلْ سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا؟ قَالَ: نَعَمْ، سَمِعْتُهُ يَقُولُ: " إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلَّا بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Imam Ahmad dalam kitab musnadnya berkata, "Telah mengabarkan kepada kami Waki', telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Al-Mughirah, dari Humaid bin Hilal, dari Abu Qatadah dan Abu Ad-Dahma', mereka berdua berkata, telah datang kepada kami seorang badui, lalu kami berkata, apakah engkau telah mendengar Rasulullah Shallahu'alaihi wassalam pernah bersabda tentang sesuatu apapun ? Badui tadi menjawab, "Betul, aku mendengar beliau bersabda, "Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah azza wa jalla kecuali Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya"   Shohih   (HR. Ahmad no. 23074, shohih sebagaimana dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ahaadits Ash-Shohihah 2/732 dan disebutkan juga di Adh Dho'ifah ketika membahas hadits no. 5 jilid 1 hal 62) 

Istriku tersayang maafkan diriku apabila engkau merasa bahwa aku telah memaksakan sesuatu yang kurang berkenan di hatimu…bisa jadi engkau masih bimbang dan ragu untuk memenuhi panggilan haji….bisa jadi engkau kwatir bahwa nanti terjadi datang bulan maka pastinya akan ada ini dan itu….bisa jadi engkau kwatir akan anak dan keluarga yang kita tinggalkan…atau bisa jadi engkau kwatir sepeninggal haji kita akan kehabisan tabungan untuk meneruskan bahtera kita…namun yakinlah aku ingin mengajakmu memenuhi panggilan yang mulia ini semata-mata agar engkau menjadi pendampingku di surga kelak.

Istriku tersayang semoga Allah memudahkanmu untuk menjadi sosok wanita ahli surga…dimana aku yakin engkau tidak akan:

 Pertama:  Memakai parfum wangi semerbak di luar rumah.

Aku yakin engkau adalah seorang pendamping yang cerdas….dimana engkau langsung mengerti konsekuensi dari hadits yang mulia berikut ini:

Dari Abu Musa Al Asy'ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

"Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur."   Hasan   (HR. An Nasa'i no. 5126, at-Tirmidzi no. 2786 dan Ahmad no. 19711, sanadnya hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Albani dalam kitabnya Jilbab al-Mar-atus Sholihah fil Kitab was Sunnah hal 137). 

Keharuman tubuhmu selayaknya hanya untuk diriku seorang…

Engkau wangi di hadapanku, karena itu sangat menyenangkan hatiku …dan hal tersebut dipuji dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

"Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Siapakah wanita yang paling baik?" Jawab beliau, "Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci"   Hasan   (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2/251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan di Irwaul Ghalil no. 1786). 

Istriku tersayang… ketahuilah bahwa suri teladan kita - Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menganjurkan keselamatan bagi umatnya, termasuk bagi wanita. Seorang wanita yang sudah terlanjur memakai parfum kemudian hendak ke masjid maka ia diperintahkan mandi besar agar tidak tercium bau semerbaknya. Padahal tujuan ke masjid adalah untuk beribadah. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ تَطَيَّبَتْ، ثُمَّ خَرَجَتْ إِلَى الْمَسْجِدِ، لَمْ تُقْبَلْ لَهَا صَلَاةٌ حَتَّى تَغْتَسِلَ

"Wanita yang memakai minyak wangi lalu pergi ke masjid, maka tidak diterima shalatnya sehingga ia mandi sebagaimana mandi janabah (mandi besar)."   Shohih   (HR. Ibnu Majah no. 4002, Shohih, Lihat Shohihul Jamius Shoghir no. 2703 dan Silsilah Ahaadits ash-Shohihah no. 1031 dari Shahabat Abu Hurairah radhiallahu'anhu). 

sekali lagi wahai istriku tersayang…semoga setelah haji wangimu hanya untukku semata.

 Kedua:  Berdandan MENOR untuk pergi ke luar rumah.

Istriku tercinta..., aku yakin setelah haji engkau tidak akan pernah lagi tampil cantik menor dan anggun di luar rumah namun engkau akan selalu tampil cantik di hadapanku semata. Sungguh cemburuku akan menyengatku manakala engkau tampil cantik diluar rumah…aku ingin cantikmu hanya untuk seorang.

Istriku simaklah ayat yang mulia berikut:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu" (QS. Al Ahzab: 33).

Yang dimaksud dengan ayat ini adalah hendaklah wanita berdiam di rumahnya dan tidak keluar kecuali jika ada kebutuhan.

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah membawakan penjelasan dari Imam Mujahid rahimahullah ketika menjelaskan makna berhias seperti tingkah laku orang Jahiliyyah:

كَانَتِ الْمَرْأَةُ تَخْرُجُ تَمْشِي بَيْنَ يَدَيِ الرِّجَالِ، فَذَلِكَ تَبَرُّجُ الْجَاهِلِيَّةِ.

Seorang wanita ke luar rumah berjalan (pamer aurat) di hadapan laki-laki maka yang demikian itulah yang dimaksud berhias seperti tingkah laku orang jahiliyyah. (Tafsir AlQuran Ibnu Katsir 6/410 cet. Daar at-Thoyyibah)

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah membawakan penjelasan dari Imam Mujahid rahimahullah ketika menjelaskan makna berhias seperti tingkah laku orang Jahiliyyah:

وَقَالَ مُقَاتِلُ بْنُ حَيَّانَ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجاهِلِيَّةِ الْأُولى وَالتَّبَرُّجُ أَنَّهَا تُلْقِي الْخِمَارَ عَلَى رَأْسِهَا وَلَا تَشُدُّهُ، فَيُوَارِي قَلَائِدَهَا وَقُرْطَهَا وَعُنُقَهَا، وَيَبْدُو ذَلِكَ كُلُّهُ مِنْهَا، وَذَلِكَ التَّبَرُّجُ

Maqotil bin Hayan mengatakan bahwa yang dimaksud berhias diri seperti orang jahiliyyah adalah seseorang memakai khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya. Inilah yang disebut tabarruj (berhias diri) seperti mode jahiliyyah. (Tafsir Ibnu Katsir 6/410)

Firman Allah Azza wa Jalla:

وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

"Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya" (QS. An Nur: 31).

Istriku tersayang…. dari ayat tersebut jelas sekali kalau engkau memakai make-up, bedak tebal, eye shadow, lipstick, maka itu sama saja engkau telah menampakkan perhiasan diri. Inilah yang terlarang dalam ayat tersebut. Dan aku sebagai suamimu pasti akan dirundung rasa cemburu yang tak terpadamkan sampai engkau merubah penampilanmu yaitu hanya menor dan cantik dihadapanku seorang. Sedangkan ketika di luar rumah, aku berharap engkau hanya menampakkan keanggunanmu sesuai dengan petunjuk ayat tersebut.

 Ketiga:  Bepergian / safar sendirian ke tempat yang jauh.

Istriku tersayang semoga Allah senantiasa menjagamu...tolong simak hadits berikut ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَ مَعَهاَ ذُوْ مَحْرَمٍ ، وَ لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ امْرَأَتِيْ خَرَجَتْ حَاجَّةً ، وَ إِنِّيْ اكْتُتِبْتُ فِيْ غَزْوَةِ كَذَا وَ كَذَا ؟ قَالَ : انْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

"Dari Abdullah bin 'Abbas, ia mendengar Nabi Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: "Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian, kecuali bersama mahramnya." Lalu seorang shahabat berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam, sesungguhnya isteriku pergi berhaji, sedangkan aku diperintahkan untuk turut serta dalam peperangan ini dan itu." Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam berkata, 'Kembalilah dan berhaji-lah bersama isterimu."   Shohih   (HR. Bukhari no. 1862, Muslim no. 1341). 

Istriku tersayang…aku berharap setelah haji, hanya aku ataupun mahrammu yang akan mendampingimu ketika engkau hendak bepergian jauh, kalau pun engkau tidak ada yang bisa mendampingimu maka bersabarlah karena kesabaranmu itu sebagai bentuk kecintaanmu kepada Allah dan Rasul-Nya serta bukti nyata bagiku akan kesetiaanmu.

 Keempat:  Memakai baju yang ketat lagi membentuk tubuh…

sungguh engkau akan lebih cantik di hatiku manakala engkau memakai busana muslimah yang menutup sempurna auratmu yang selayaknya engkau perlihatkan keindahanmu itu hanya untukku seorang.

Istriku tersayang…tolong simaklah hadits mulia berikut ini:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «المَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ»

"Dari Abdullah bin Mas'ud, dari Nabi Shallallahu'alaihi wassalam, beliau berkata, 'Wanita adalah aurat, apabila dia keluar, setan menghiasinya (pada pandangan lelaki)."   Shohih   ( HR. at- Tirmidzi no. 1176, Shohih, lihat Irwaul Gholil no.273). 

Begitu juga dengan nasehat yang mulia berikut ini:

عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى امْرَأَةً، فَأَتَى امْرَأَتَهُ زَيْنَبَ، وَهِيَ تَمْعَسُ مَنِيئَةً لَهَا، فَقَضَى حَاجَتَهُ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: «إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ»،

Dari Jabir bin Abdillah bahwa suatu kali Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah melihat seorang wanita, lalu beliau masuk ke rumah istri beliau Zainab bintu Jahsy radhiyallahu 'anha, dan Zainab itu sedang dalam keadaan sibuk mencuci kulit untuk disamak, lantas beliau menunaikan hajatnya. Setelah itu beliau keluar menemui para sahabatnya seraya bersabda, "Sesungguhnya wanita datang (menghadap) dalam bentuk setan. Apabila salah seorang dari kalian melihat wanita dan mengaguminya, hendaknya ia mendatangi istrinya. Sebab, apa yang ada pada wanita tersebut adalah seperti apa yang ada pada istrinya."   Shohih   (HR. Muslim no. 1403(9), Abu Dawud no. 2151, dan at-Tirmidzi no. 1161 dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu) . 

Subhanallah...istriku tersayang, dari hadits di atas, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam menyampaikan kepada kita pesan yang sangat indah, yaitu:

 Kelima:  Memperbanyak kegiatan yang kurang bermanfaat di luar rumah dan lalai akan tugasmu sebagai seorang ibu dan assisten pribadiku yang tak tergantikan.

Istriku tersayang, setelah haji ….aku berharap agar engkau dan aku bersama-sama untuk lebih mengoptimalkan waktu dalam rangka memperbaiki ibadah kita kepada Dzat Yang Maha Pemberi Rezki. Aku yakin bahwa Allah-lah yang Maha Pemberi Rezki dan limpahan nikmat bagi kita serasa tidak pernah berhenti…ada dan selalu ada. Keinginanku untuk mengoptimalkan waktu itu juga sebagai bentuk syukur kepada Allah atas berbagai nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita - termasuk nikmat rezki untuk menunaikan ibadah haji. Agar engkau tidak ragu dengan tekadku tersebut maka simaklah hadits berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat"   Hasan Lighoirihi   (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi sebagaimana dicantumkan di Shohih At-Targhib wat Tarhiib no. 2881) . 

Istriku tercinta…Bersyukurlah dengan limpahan nikmat Allah yang begitu buanyaaaaak tak terhingga kepada kita, jangan lagi ada keluhan kesah, grundel, yang terlontar dari mulut indahmu. Gantilah keluh kesah itu dengan rasa pasrah kepada Allah seraya mengucapkan LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH (TIDAK ADA DAYA DAN UPAYA KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLAH). Ketahuilah istriku tersayang...tidak setiap wanita mendapatkan berbagai nikmat sebagaimana yang telah Allah limpahkan kepadamu.
Semoga engkau senantiasa mendapatkan petunjuk dari Allah dan dilindungi dari perbuatan-perbuatan tersebut.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita dan keluarga kita agar senantiasa menjadi hamba yang ikhlas, bersabar dan istiqamah dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menjauhkan kita dari fitnah serta penyebab jauhnya hamba dari beribadah kepada-Nya.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Dan orang-orang yang berkata: 'Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa'." (QS. Al-Furqan: 74)

اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

"Ya Allah, tolonglah aku agar dapat berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu"   Shohih   (HR. Abu Dawud no. 1522, an-Nasa-i no. 1303, Ahmad no. 22172, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dicantumkan di Shohih At-Targhib wat Tarhiib no. 1596) . 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Abu Kayyisa,

Al Rahba UAE - Dini hari kabut mulai menderap turun menyapa, Rabu, 29 Dzulqa'dah 1435 H/24 September 2014.

 

 

 

ARSIP ARTIKELs

Kajian Online UAE   

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran