Saturday, August 17, 2019
Text Size
User Rating: / 0
PoorBest 

 

Sunnah Seharga 5 Dirham.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian,

Tulisan kali ini adalah mengenai sebuah pelajaran penting tentang sunnah yang ditinggalkan oleh kebanyakan orang - Yaitu tentang ISBAL.

Diawali dari kisah nyata yang terjadi di masjid al-Muhajirin Ar-Rahba di pinggiran Abu Dhabi, UAE, tepatnya ketika menjelang sholat Maghrib. Ketika itu ada seorang teman lokal yang akrab sebut saja namanya Hamad, tergopoh-gopoh menuju shaf, setelah melihat-lihat ternyata ada celah kecil disampingku dan aku mempersilahkan beliau berdiri disampingku. Setelah sholat selesai, beliau hendak bergegas keluar masjid namun dengan suara lirih aku menyapanya, "Kaifal Hal ya Akhi al-Aziz ?" (Apa kabar wahai Saudaraku yang mulia?) kemudian dia menjawab, "Alhamdulillah bikhoir" terus aku bertanya kepada beliau, "Barakallahu fik, hal turidu hadiyyatan bikhoms dirham faqoth?" (Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu, apakah engkau ingin hadiah sebesar 5 dirham saja?"). Lantas dia pun bingung, terheran-heran sambil berujar, "Madza turidu ya akhi, na'am ana uridu hadiyyatan walakin laisa bi khoms dirham, lesh khomsa dirham?" (Apa yang kamu inginkan wahai saudaraku, betul aku ingin hadiah namun bukan 5 dirham, kenapa 5 dirham?). Dengan wajah penuh harap tentang penjelasan kenapa disebutkan hadiah 5 dirham (5 dirham setara dengan 16 ribu rupiah), mungkin bisa jadi itu sangat lucu atau aneh kenapa hadiah sebesar 5 dirham saja, sedangkan 5 dirham bagi orang lokal UAE itu bisa dianggap pelecehan karena saking murahnya.

Setelah itu aku jelaskan, "Khomsah dirham lidzihab ila khoyyath liqatho' tsaubak hatta fauqa ka'baini" (5 dirham itu untuk pergi ke penjahit dalam rangka memotong bajumu agar dapat diatas mata kaki). Beliaupun tersenyum, sambil berkata, "Ya akhi, kullu malabisi qad qatho'tu fauqa ka'baini illa hadza faqath, lianni musta'jil lidzihab ila masjid wa ma nabbahtu anna tsaubi tahta ka'baini, wa jazakallahu khoiran 'ala husni nasihatik" ("Wahai saudaraku, semua bajuku sudah aku potong diatas mata kaki kecuali yang satu ini, karena aku tergesa-gesa untuk pergi ke masjid sehingga aku tidak memperhatikan bahwa bajuku dibawah mata kaki, jazakallah khoiran atas kebaikan nasehatmu."). Keumuman yang berlaku di Abu Dhabi dan daerah sekitarnya ketika hendak memotong baju oleh penjahit setempat biaya standarnya adalah seharga 5 dirham. Akhirnya kamipun bersalaman dan dia masih cengar cengir senyum, merasa aneh dengan penyebutan 5 dirham.

Subhanallah…fenomena asing lagi aneh, begitulah keindahan Islam di akhir zaman menjadi asing...begitu banyak pengikut Nabi Shallallahu'alaihi wassalam sudah jauh dari apa yang diikutinya…dan ketika diberitahukan tentang petunjuk yang benar dari Beliau shallallahu'alaihi wassalam maka terkadang hati itu tidak mudah untuk menerimanya karena memang itu sudah asing. Betul-lah apa yang diucapkan suri tauladan kita Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ، وَابْنُ أَبِي عُمَرَ، جَمِيعًا عَنْ مَرْوَانَ الْفَزَارِيِّ، قَالَ ابْنُ عَبَّادٍ: حَدَّثَنَا مَرْوَانُ، عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ كَيْسَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

"Berkata Imam Muslim: "Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin 'Abbad dan Ibnu Abi 'Umar yang keduanya (mendengar) dari Marwan al-Fazaari, berkata Ibnu 'Abbad: "Telah mengabarkan kepada kami Marwan, dari Yazid yaitu Ibnu Kaisan, dari Abi Hazim, dari Abi Hurairah, beliau (Abu Hurairah radhiallahu'anhu) berkata: Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Islam awalnya asing, dan kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah bagi al-Ghuraba' (orang-orang asing)."
  Hadits Shohih   (HR. Muslim (no. 145))

Tentang mengenakan baju, celana, sarung diatas mata kaki itu merupakan hal yang asing dan aneh, inipun terjadi bukan hanya di Indonesia, namun disemua penjuru dunia termasuk di Abu Dhabi, berapa banyak orang yang merasa aneh dengan menjulurkan kain diatas mata kaki, berapa banyak dari mereka yang tidak mengenal ataupun jauh dari penjelasan tentang sunnah al-mahjurah (sunnah yang ditinggalkan) termasuk didalamnya menjulurkan kain di atas mata kaki.

Saudaraku yang semoga Allah senantiasa menjagamu…mari kita simak penjelasan detail tentang apa itu Isbal dan dalil-dalilnya:

Pengertian Isbal:

Isbal secara bahasa adalah masdar (kata kerja yang dibendakan) dari "asbala" (telah menjulurkan), "yusbilu" (sedang menjulurkan) (masdarnya - kata kerja yang dibendakan) dari isbaalan (penjuluruan) dan orang yang melakukan pekerjaan isbal adalah disebut sebagai "Musbil" (pelaku penjuluruan)",

أَسْبَلَ يُسْبِلُ ، إِسْبَالاً ، فَهُوَ مُسْبِلٌ

Secara umum arti secara bahasa adalah menurunkan, menjulurkan atau memanjangkan. (lihat Mu'jam al-Lughoh al-Arabiyah al-Mu'ashiroh no. 2431 oleh Dr. Ahmad Mukhtar Abdul Hamid Umar cet. Alam al-Kutub 1429 H).

Sedangkan menurut istilah, diungkapkan dalam kamus Lisanul Arob sebagaimana yang dinukil dari Ibnul 'Arabi:

المُسْبِلُ الَّذِي يُطَوِّل ثَوْبَهُ ويُرْسِلُهُ إِلىَ الأَرْضِ إِذَا مَشَى وإِنَّمَا يَفْعَلُ ذَلِكَ كِبْراً واخْتِيَالًا

Musbil adalah orang yang memanjangkan dan menjulurkan pakaiannya hingga menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak. (Lihat Lisanul 'Arob, Ibnul Munzhir 11/321 cet Dar Shoodir)

Saudaraku yang semoga Allah membukakan pintu hidayah-Nya bagiku dan bagimu…serta melapangkan dada kita untuk menerima dalil-dalil yang shohih dan dimudahkan untuk mengamalkannya...simaklah dalil-dalil berikut:

Hadits Pertama:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ، لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي، إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ» قَالَ مُوسَى: فَقُلْتُ لِسَالِمٍ أَذَكَرَ عَبْدُ اللَّهِ " مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ؟ قَالَ: لَمْ أَسْمَعْهُ ذَكَرَ إِلَّا ثَوْبَهُ "

(Imam al-Bukhori berkata) Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Muqathil, (Muhammad berkata) telah mengabarkan kepada kami Abdullah (bin Al-Mubarak), (Abdullah bin al-Mubarak) berkata, 'Telah mengabarkan kepada kami Musa bin Uqbah dari Salim bin Abdullah (bin Umar) dari Abdullah bin Umar radhiallahu'anhuma, dia berkata, 'Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda:

"Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar lalu berkata: 'Salah satu sisi pakaianku akan melorot kecuali aku ikat dengan benar'. Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: 'Engkau tidak melakukan itu karena sombong'.
 Musa bertanya kepada Salim, apakah Abdullah bin Umar menyebutkan lafadz 'barangsiapa menjulurkan kainnya'? Salim menjawab, yang saya dengar dari beliau (Abdullah bin Umar) hanya 'barangsiapa menjulurkan pakaiannya'. "  Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhari 3665, diriwayatkan pula oleh Muslim 2085, Abu Dawud no. 4085 dan yang lainnya.)

Hadits Kedua:

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ عَنِ الإِزَارِ، فَقَال: عَلَى الْخَبِيرِ سَقَطْتَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ، وَلَا حَرَجَ - أَوْ لَا جُنَاحَ - فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ، مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ، مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ»

Telah menceritakan kepada kami (Abu Dawud) Hafsh bin Umar berkata, telah menceritakan kepada kami (Hafsh) Syu'bah dari Al 'Ala bin 'Abdurrahman dari Bapaknya ia berkata, "Aku bertanya kepada Abu Sa'id Al Khudri tentang kain sarung, lalu ia berkata, "Engkau bertanya kepada orang yang tepat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Kain sarung seorang muslim sebatas setengah betis, dan tidak berdosa antara batas setengah betis hingga dua mata kaki. Adapun apa yang ada di bawah kedua mata kaki adalah di neraka. Dan barangsiapa menjulurkan kain sarungnya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat."
  Hadits Shohih   (HR. Abu Dawud no. 4093 (sanad diatas milik Abu Dawud), Ahmad no. 11397, Shohih – Lihat Shohih Jami'ush Shoghir no. 921)

Hadits Ketiga:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ» قَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي، إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلاَءَ»

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Uqbah dari Salim bin Abdullah dari Ayahnya radliallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda:

"Siapa yang menjulurkan pakaiannya (hingga ke bawah mata kaki) dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat kelak." Lalu Abu Bakar berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah satu dari sarungku terkadang turun sendiri, kecuali jika aku selalu menjaganya?" lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Engkau bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong."
  Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhari 3665, diriwayatkan pula oleh Muslim 2085, Abu Dawud no. 4085 dan yang lainnya.)

Hadits shohih diatas banyak dipahami keliru oleh kebanyakan orang yang menganggap enteng perkara isbal dan mereka membolehkan isbal dengan dalil keadaan yang dialami oleh Abu Bakar, namun simaklah penjelasan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori 10/255, tentang alasan kenapa Shahabat Abu Bakar radhiallahu'aanhu melakukan itu bukan karena sombong, :

وَكَانَ سَبَبُ اسْتِرْخَائِهِ نَحَافَةَ جِسْمِ أَبِي بَكْرٍ

Sebab turunnya (kain Abu Bakar) adalah karena kurusnya badan Abu Bakar.

Saudaraku silahkan antum simak tanya jawab dari transkrip kaset no 33 dari Silsilah al-Huda wan Nuur diawali dari menit ke 26:51 oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah:

- قوله عليه الصلاة والسلام لأبي بكر في الإسبال (..انك لست ممن يفعل ذلك خيلاء..) هل هي واقعة عين؟ أم تحمل على جواز الإسبال لغير الخيلاء .؟ ( 00:26:51 )

"Sabda Nabi Shallallahu'alaihi wassalam kepada Abu Bakar tentang Isbal (Sesungguhnya engkau bukan termasuk orang yang melakukan isbal karena sombong) apakah sebab itu berlaku khusus karena keutamaan dari Shahabat Abu Bakar atau berlaku juga bolehnya Isbal tanpa ada sombong ?"

أبو اسحق : طيب بالنسبة لتقصير القميص ، وواقعة أبى بكر مع النبى صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّم ، لما (قال له صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّم : لست ممن يصنعه خيلاء) هل هذه واقعة عين؟ أم يجوز للرجل ان يطيل ثوبه ليس من باب الكبر أو نحو ذلك ؟ الشيخ : لا يجوز للمسلم أن يتعمد إطالة ثوبه بدعوى أنه لايفعل ذلك خيلاء ، وذلك لسببين اثنين

Abu Ishaq (Al-Huwaini), baik, berkaitan dengan memendekkan gamish, terjadi pada Abu Bakar dimana Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam ketika itu beliau bersabda : "Engkau bukan termasuk orang yang melakukannya karena sombong, apakah sebab itu berlaku khusus karena keutamaan dari Shahabat Abu Bakar atau berlaku juga bolehnya Isbal tanpa ada sombong ? atau apakah boleh seseorang untuk memanjangkan bajunya tanpa ada niat sombong atau yang semacamnya? Syaikh Al-Albani menjawab: Tidak boleh bagi seorang muslim untuk sengaja memanjangkan bajunya dengan anggapan bahwa ia melakukannya karena tidak ada maksud sombong, hal itu karena ada dua sebab:

السبب الأول- وهو الذى يتعلق بقول الرسول عَلَيْهِ الصلاة والَسَلَاّم لأبى بكر ما ذكرته أنفا (إنك لا تفعل ذلك خيلاء): ان أبا بكر لم يتخذ ثوبا طويلا فقال له عَلَيْهِ الصلاة والَسَلَاّم (إنك لا تفعل ذلك خيلاء) ، وإنما كان قوله جوابا لقوله بأنه كان يسقط الثوب عنه ، فيصبح كما لو أطال ذيله ، فأجابه الرسول بأن هذا أمر لا تؤأخذ عليه لأنك لا تفعله قصدا ، فلذلك لا يجوز أن نلحق بأبي بكر ناسا يتعمدون إطالة الذيول ثم يقولون نحن لا نفعل ذلك خيلاء ، فحادثة أبى بكر لا تشهد لهؤلاء مطلقا ،

Sebab yang pertama: Sebab ini berkaitan dengan sabda Nabi Shallallahu'alaihi wassalam kepada Abu Bakar sebagaimana yang telah aku sebutkan barusan, (Sesungguhnya engkau tidak melakukan yang demikian karena sombong) sesungguhnya Abu Bakar tidak mengenakan pakaian yang panjang oleh karena itu Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: (Sesungguhnya engkau tidak melakukan yang demikian karena sombong) dan ucapan beliau tersebut adalah merupakan jawaban bahwa bajunya (Abu Bakar) itu mlorot ke bawah. Maka bajunya beliau menjadi melorot ke bawah lalu Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam menjawab bahwa perkara tersebut tidak menjadi kesalahannya karena engkau tidak melakukannya dengan sengaja. Oleh karena itu tidak boleh ada yang menyamakan dengan (kondisi yang dialami) Abu Bakar (dalam hal) memanjangkan kain sampai bawah mata kaki dan mereka berkilah "kami tidak melakukan demikian (isbal) karena sombong" maka kejadian yang dialami Abu Bakar tidak dapat menjadi bukti pembolehan bagi mereka (yang mengatakan kami isbal karena tidak sombong) secara mutlaq.

والسبب الآخر : هو أن النبى صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّم ، قد وضع نظاما للمسلم فى ثوبه ومقدار ما يجوز له أن يطيل منه ، فقال صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّم ، (أزره المؤمن إلى نصف الساق فإن طال فإلى الكعبين فإن طال ففى النار)، فهنا لا يوجد العلة التى جاء ذكرها فى الحديث الصحيح (من جر ازاره خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة)

Sebab yang lainnya; Sesungguhnya Nabi Shallallahu'alaihi wassalam telah meletakkan peraturan bagi seorang muslim tentang bajunya dan panjang yang tidak diperbolehkan untuk melewatinya maka beliau Shallallahu'alaihi wassalam bersabda ('baju seorang mukmin itu panjangnya sampai setengah betis dan apabila ingin lebih panjang lagi maka sampai kedua mata kaki dan bila lebih panjang lagi maka letaknya di neraka) maka didalam keterangan tersebut tidak ada lagi alasan untuk berhujah dengan dalil (yaitu) hadits shohih (barang siapa yang menjulurkan kainnya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat).

فهذا وزر أشد من وزر من يطيل إزاره تحت ساقيه ، بمعنى أن إطالة الإزار تحت الساقين عمدا – بغض النظر هل فعل ذلك خيلاء أم لا – فهو مؤاخذ عليه صاحبه وهو فى النار ، لكن إن إقترن مع هذه المخالفة لهذا النظام النبوى إلى نصف الساقين فإن طال فإلى مافوق الكعبين فإن طال ففى النار ، فإن إقترن مع هذه المخالفة لهذا النظام أنه يفعل ذلك خيلاء فهو الذى يستحق بعيد فقده لرحمة ربه ، وتوجه ربنا عز وجل إليه بالنظر بالرحمة إليه يوم القيامة ، ذلك لا ينبغى أن نأخذ من قصة أبى بكر جواز الإطالة بدون قصد الخيلاء لأن هذا يخالف نظام الحديث السابق ، وهذا واضح إن شاء الله .

Maka itu adalah dosa yang lebih dahsyat dari dosanya orang yang menjulurkan kain dibawah betis, maksudnya bahwa memanjangkan kain dibawah kedua betis secara sengaja - Dengan penilaian – apakah dia melakukan yang demikian karena sombong atau tidak - maka akan dihukum pelakunya dan dia berada di neraka, namun apabila dibandingkan dengan pelanggaran terhadap peraturan Nabi Shallallahu'alaihi wassalam (bahwa panjang kain) sampai setengah betis jika (ingin lebih panjang lagi) maka bolehnya adalah antara setengah betis sampai diatas mata kaki, jika ingin lebih panjang lagi maka posisinya di neraka. Apabila dikaitkan dengan pelanggaran terhadap peraturan tersebut (Peraturan panjang kain) bahwasanya dia melakukan yang demikan itu karena sombong maka rahmat Allah akan terluput darinya begitu pula penglihatan Allah kepadanya dengan pandangan rahmat pada hari kiamat. Tidak selayaknya mengambil alasan dari kisahnya Abu Bakar tentang bolehnya memanjangkan kain dengan alasan tidak sombong karena hal tersebut menyelisihi peraturan hadist sebelumnya. Dan Ini jelas inSyaAllah.

أبو اسحق : طيب يا شيخنا نلاحظ كثير من الأخوة يلبس القميص قصير ويلبس تحته بنطلون طويل يعنى يصل أحيانا إلى ما تحت الكعبين هل هذا يدخل فى النهى أيضا ؟ الشيخ : كل الدروب على الطاحون ، لا يجوز أيضا أبو اسحق : طب الجملة الى ..هههههه أبو الحارث : هذا مثل عندنا فى الشام الشيخ : كل الدروب على الطاحون ، يعنى كل طريق يصل الى المحرم فهو محرم ، ولا يجوز هذا لأن الإزار ليس هو المقصود بذاته ، إنما المقصود هو الثوب سواء كان إزارا أو كان قميصا أو كان عباءة أو نحو ذلك

Abu Ishaq (Al-Huwaini) berkata, Baik wahai Syaikhona (Guru kami), banyak dari saudara-saudara kita yang memakai gamish yang pendek dan bawahannya memakai celana panjang yang panjangnya terkadang sampai dibawah mata kaki, apakah ini masuk pula dalam larangan tersebut? Syaikh berkata: Setiap lintasan yang banyak akhirnya bertemu pula di tempat penggilingan yang sama, tidak boleh pula hukumnya. Abu Ishaq, baik ya Shaikh (suara tertawa hahaha), Abu Harits (Syaikh Ali Hasan) berkata, majaz tadi sama dengan apa yang ada di Syam (syiria), Syaikh Albani berkata, maksud Kullu Dhuruub ala Thohuun adalah setiap jalan yang tujuan akhirnya adalah haram maka hukumnya sama yaitu dia itu haram maka tidak boleh yang demikian...hal ini karena sarung/kain itu bukan maksud secara dzatnya (larangan bukan hanya pada sarung/kain secara pengkhususan) namun maksudnya adalah kain baju baik itu berupa sarung/kain atau baju panjang atau abaya (rompi panjang) atau yang semisalnya

، فلا ينبغي للمسلم أن يطيل هذا الثوب الى ما تحت الكعبين . نعم الطالب : أستاذي هناك حديث (وإياك واسبال الازرار فان اسبال الإزار من المخيلة) هذا الحديث قد يدل على سواء نوى أن يكون هذا من الخيلاء أو لا يكون من الخيلاء هو بمجرد أن يسبل إزاره تحت الكعبين هذا يكون خيلاء الشيخ : هذا صحيح ، هذا هو الأصل ، لكن الواقع أننا لا نستطيع أن ننكر واقع أخر ، وهو أن بعض الناس قد يفعلون ذلك ولا يدور فى خلدهم إطلاقا قصد الخيلاء ، لكن هو إطالة الإزار المقصود منه هو الخيلاء ، فهذا الحديث الذى تذكره أنت يشير إلى الأصل ، لماذا يطيل الإزار ؟ هو خيلاء ، لكن هذا لا يعني ان نفرض على كل شخص أن نتهمه بأنه يفعل ذلك خيلاء ، وهو أدرى بنفسه إذ يقول أنا لا أفعله ، وإنما نلفت نظره والحالة هذه الى الحديث السابق الذى هو منهج لهذا القميص أو ذاك الثوب وهو من حديث أبى سعيد الخدرى رضى الله عنه .

Maka tidak selayaknya bagi seorang muslim untuk memanjangkan bajunya sampai dibawah mata kaki, seorang murid Syaikh Albani bertanya, "Wahai ustadzku, ada hadits (Hati-hatilah kalian terhadap isbal sarung/kain karena menjulurkan sarung/kain dibawah mata kaki adalah termasuk sombong) hadits ini menunjukkan bahwa adanya atau tidaknya niat sombong itu cukup dengan menjulurkan sarung/kain dibawah mata kaki maka itu termasuk perbuatan sombong? Syaikh Albani menjawab: "(pernyataan) ini shohih" dan (pernyataan) ini adalah asas pokoknya namun secara kenyataan kita tidak bisa memungkiri kenyataan yang lainnya yaitu bahwa sebagian orang terkadang melakukan perbuatan demikian dimana mereka tidak memutlakannya sebagai perbuatan sombong namun (yang benar) adalah memanjangkan sarung/kain dimaksudkan darinya adalah termasuk sombong dan hadits yang engkau sebutkan tadi itu adalah pokok asal, oleh karena itu kenapa orang memanjangkan sarung/kain? Sedangkan perbuatan memanjangkannya itu termasuk sombong dan dia mengetahui terhadap dirinya ketika dia beralasan bahwa aku tidak melakukannya (dengan niat sombong). Sesungguhnya aku menilai keadaanya dengan hadits yang telah lalu dimana hadits tersebut adalah manhaj tolok ukur untuk panjang ghamis atau baju dan itu dari hadist Abu Sa'id al-Khudry radhiallahu'anhu (baca:hadits kedua).

Begitu pula Syaikh Albani memberikan penjelasan yang sangat jelas terhadap penjelasan hadits kejadian Abu Bakar radhiallahu'anhu:

فتجد من ذلك البعض من لا يبالي مثلا أن يجر ثوبه على الأرض بدعوى أنه لا يفعل ذلك خيلاء ، مستروحا إلى قوله صلى الله عليه وسلم لأبي بكر « لست ممن يصنعه خيلاء » ، غافلين عن الفرق الظاهر بينه رضي الله عنه وبينهم ، فإنه كان لا يتعمد ذلك ، كما هو صريح قوله : « إن أحد شقي إزاري يسترخي » وهم يتعمدون إرخاءه ، جاهلين أو متجاهلين ما جاء في صفة إزاره صلى الله عليه وسلم

Maka engkau akan mendapati sebagian dari mereka orang-orang yang tidak ambil peduli terhadap (permasalahan) menurunkan pakaiannya sehingga terjulur ke tanah, serta mengiringinya dengan anggapan bahwa dia tidak melakukannya dengan sombong, sambil tanpa merasa bersalah (bahkan gembira) hatinya dengan pendalilan hadis yang berkenaan dengan kisah Abu Bakar. (Sebenarnya) mereka lalai dengan adanya perbezaan yang sangat ketara di antara Abu Bakar dengan diri mereka. Di mana Abu Bakar benar-benar tidak sengaja melakukannya (malah telah berusaha sedaya-upaya), sebagaimana telah jelas di dalam hadis tersebut menyatakan bahawa kainnya menjulur turun tanpa sengaja. Sedangkan mereka yang menggunakan hadis tersebut untuk membolehkan isbal, mereka melakukannya dengan kesengajaan. Di mana mereka tidak tahu atau sengaja bersikap bodoh terhadap hadis-hadis yang menjelaskan tentang sifat pakaian Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam...." (Mukhtashor Shamaail Muhammadiyah hal 10, cet Maktabah al-Mar'arif)

Hadits Keempat:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي اللَّيْثُ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَالِدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ أَبَاهُ، حَدَّثَهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «بَيْنَا رَجُلٌ يَجُرُّ إِزَارَهُ، إِذْ خُسِفَ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلَّلُ فِي الأَرْضِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ» تَابَعَهُ يُونُسُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، وَلَمْ يَرْفَعْهُ شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ: أَخْبَرَنَا أَبِي، عَنْ عَمِّهِ جَرِيرِ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ - عَلَى بَابِ دَارِهِ - فَقَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin 'Ufair dia berkata; telah menceritakan kepadaku Al Laits dia berkata; telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Khalid dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah bahwa Ayahnya (Abdullah bin Umar bin al-Khoththob) telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Ketika ada seseorang yang menjulurkan kain sarung/kainnya maka dia akan berguncang-guncang (diadzab) di perut bumi hingga datangnya hari Kiamat."
 Hadits ini juga diperkuat oleh riwayat Yunus dari Az Zuhri namun dia tidak merafa'kannya (sanadnya tersambung sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) yaitu dari Syu'aib dari Az Zuhri, Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir telah mengabarkan kepada kami Ayahku dari pamannya Jarir bin Zaid dia berkata; saya pernah bersama Salim bin Abdullah bin Umar berada di depan pintunya, lalu dia berkata; saya mendengar bahwa Abu Hurairah mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda seperti hadits di atas."   Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhori no. 5790)

Dalam lafazh yang lainnya :

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، أَخْبَرَنِي سَالِمٌ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «بَيْنَمَا رَجُلٌ يَجُرُّ إِزَارَهُ مِنَ الخُيَلاَءِ، خُسِفَ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الأَرْضِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ» تَابَعَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَالِدٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ

Telah bercerita kepada kami (Imam al-Bukhori) Bisyir bin Muhammad telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhry telah mengabarkan kepadaku Salim (bin Abdillah bin Umar) bahwa Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma telah bercerita bahwa Nabi Shallallu 'alaihi wa salam besabda:

"Ada seorang laki-laki yang ketika dia menjulurkan pakaiannya karena kesombongan, ia dibenamkan ke dasar bumi, dan orang itu terus meronta-ronta hingga hari qiyamat"
. Hadits ini diikuti oleh 'Abdur Rahman bin Khalid dari Az Zuhry. Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhori no. 3485)

Hadits Kelima:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا»

"Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zinnad dari Al A'raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Pada hari kiamat kelak, Allah tidak akan melihat orang yang menjulurkan kain sarung/kainnya karena sombong."
  Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhori no. 5788)

Hadits yang lainnya:

Hadits Keenam:

حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ المَقْبُرِيُّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ»

"Telah menceritakan kepada kami (Al-Bukhori) Adam telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Sa'id Al-Maqburi dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Apa saja yang terletak dibawah mata kaki dari sarung (kain bawah yang dipakai seperti ketika ihram), maka tempatnya adalah di neraka."
  Hadits Shohih   (HR. Bukhari 5787)

Hadits yang lainnya:

Hadits Ketujuh:

وَحَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ الْبَاهِلِيُّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ الْقَطَّانُ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ الْأَعْمَشُ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُسْهِرٍ، عَنْ خَرَشَةَ بْنِ الْحُرِّ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْمَنَّانُ الَّذِي لَا يُعْطِي شَيْئًا إِلَّا مَنَّهُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْفَاجِرِ، وَالْمُسْبِلُ إِزَارَهُ " وَحَدَّثَنِيهِ بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ، عَنْ شُعْبَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ سُلَيْمَانَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ، وَقَالَ: «ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ»

" Dan telah menceritakan kepada kami (Imam Muslim) Abu Bakar bin Khallad al-Bahili telah menceritakan kepada kami Yahya –dia adalah al-Qaththan- telah menceritakan kepada kami Sufyan (bin Sa'id bin Masruq atau terkenal dengan nama Sufyan Ats-Tsaury) telah menceritakan kepada kami Sulaiman al-A'masy dari Sulaiman bin Mushir dari Kharasyah bin al-Hurr dari Abu Dzar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Beliau bersabda:

"Ada tiga jenis orang yang Allah tidak akan mengajak mereka bicara pada hari kiamat: Orang yang suka memberi, dia memberi melainkan dengan menyebut-nyebutkannya (karena riya'), orang yang membuat laku barang dagangannya dengan sumpah palsu, serta orang yang melakukan isbal (memanjangkan/menjulurkan) pakaian."
Dan telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Khalid telah menceritakan kepada kami Muhammad -yaitu Ibnu Ja'far- dari Syu'bah dia berkata, saya mendengar Sulaiman dengan sanad ini, dan dia menyebutkan, "Ada tiga jenis orang yang Allah tidak akan mengajak mereka berbicara dan tidak melihat kepada mereka serta tidak mensucikan mereka. Dan mereka mendapatkan siksa yang pedih."   Hadits Shohih   (HR. Muslim no.106 dari Shahabat Abu Dzar radhi'allahu'anhu)

Hadits Kedelapan:

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ وَاقِدٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي إِزَارِي اسْتِرْخَاءٌ، فَقَالَ: «يَا عَبْدَ اللهِ، ارْفَعْ إِزَارَكَ»، فَرَفَعْتُهُ، ثُمَّ قَالَ: «زِدْ»، فَزِدْتُ، فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ، فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: إِلَى أَيْنَ؟ فَقَالَ: أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ

"Telah menceritakan kepadaku (Imam Muslim) Abu Ath-Thahir; Telah menceritakan kepada kami (Abu Ath-Thahir) Ibnu Wahb; (dia Ibnu Wahab berkata) Telah mengabarkan kepadaku 'Umar bin Muhammad dari 'Abdullah bin Waqid dari Ibnu 'Umar , ia berkata;

"Aku pernah melewati Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sementara sarung/kainku/kainku (pakaianku) terjurai sampai ke tanah." Maka beliau berkata; 'Hai Abdullah, naikkan sarung/kainmu! ' lalu akupun langsung menaikkan sarung/kainku. Setelah itu Rasulullah berkata; 'Naikkan lagi.' Maka akupun menaikan lagi. Dan setelah itu aku selalu memperhatikan sarung/kainku. Sementara itu ada beberapa orang yang bertanya; 'Sampai di mana batasnya (maksimalnya)? ' Ibnu Umar menjawab; 'Sampai pertengahan kedua betis.'"
  Hadits Shohih   (HR. Muslim no. 2086 (47))

Hadits Kesembilan:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ أَبِي غِفَارٍ، حَدَّثَنَا أَبُو تَمِيمَةَ الْهُجَيْمِيُّ - وَأَبُو تَمِيمَةَ اسْمُهُ طَرِيفُ بْنُ مُجَالِدٍ - عَنْ أَبِي جُرَيٍّ جَابِرِ بْنِ سُلَيْمٍ، قَالَ: رَأَيْتُ رَجُلًا يَصْدُرُ النَّاسُ عَنْ رَأْيِهِ، لَا يَقُولُ شَيْئًا إِلَّا صَدَرُوا عَنْهُ، قُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالُوا: هَذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قُلْتُ: عَلَيْكَ السَّلَامُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَرَّتَيْنِ، قَالَ: " لَا تَقُلْ: عَلَيْكَ السَّلَامُ، فَإِنَّ عَلَيْكَ السَّلَامُ تَحِيَّةُ الْمَيِّتِ، قُلْ: السَّلَامُ عَلَيْكَ " قَالَ: قُلْتُ: أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَ: «أَنَا رَسُولُ اللَّهِ الَّذِي إِذَا أَصَابَكَ ضُرٌّ فَدَعَوْتَهُ كَشَفَهُ عَنْكَ، وَإِنْ أَصَابَكَ عَامُ سَنَةٍ فَدَعَوْتَهُ، أَنْبَتَهَا لَكَ، وَإِذَا كُنْتَ بِأَرْضٍ قَفْرَاءَ - أَوْ فَلَاةٍ - فَضَلَّتْ رَاحِلَتُكَ فَدَعَوْتَهُ، رَدَّهَا عَلَيْكَ»، قَالَ: قُلْتُ: اعْهَدْ إِلَيَّ، قَالَ: «لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا» قَالَ: فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا، وَلَا عَبْدًا، وَلَا بَعِيرًا، وَلَا شَاةً، قَالَ: «وَلَا تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ، وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ، وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ، فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهَا مِنَ المَخِيلَةِ، وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ، وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ، فَلَا تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ، فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ»

"Telah menceritakan kepada kami (Abu Dawud) Musaddad (bin Musrihad) berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya (bin Sa'id bin Farukh) dari Abu Ghifar (Al-Mutsannaa bin Sa'ad) berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Tamimah Al Hujaimi -dan Abu Tamimah namanya adalah Tharif bin Mujalid- dari Abu Jurai Jabir bin Sulaim ia berkata, "Aku melihat seorang laki-laki yang fikirannya dijadikan sandaran oleh orang banyak, dan ia tidak mengatakan sesuatu kecuali orang-orang akan mengikutinya. Aku lalu bertanya, "Siapakah dia?" orang-orang menjawab, "Ini adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." maka aku pun berkata, 'Wahai Rasulullah, 'Alaika As Salam (semoga keselamatan bersamamu) ' wahai Rasulullah, sebanyak dua kali. Beliau bersabda: "Jangan engkau ucapkan 'Alaika As Salam', karena 'Alaika As Salam adalah penghormatan dan salam untuk mayit. Tetapi ucapkanlah 'As Salamu 'Alaika'." Jabir bin Sulaim berkata, "Aku lalu bertanya, "Apakah engkau utusan Allah?" beliau menjawab: "Ya, aku adalah utusan Allah, Dzat yang jika engkau tertimpa musibah, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan menghilangkannya darimu. Jika kamu tertimpa paceklik, lalu engkau berdoa maka Dia akan menumbuhkan (tanaman) bagi kamu. Jika engkau berada di suatu tempat yang luas hingga kendaraanmu hilang, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan mengembalikannya kepadamu." Jabir bin Sulaim berkata, "Lalu aku berkata, "Berilah kami perjanjian." Beliau bersabda: "Jangan sekali-kali engkau cela orang lain." Jabir bin Sulaim berkata, "Setelah itu aku tidak pernah mencela seorang pun; orang merdeka atau budak, unta atau kambing." Beliau bersabda lagi: "Janganlah engkau remehkan perkara ma'ruf, berbicaralah kepada saudaramu dengan wajah yang penuh senyum dan berseri, sebab itu bagian dari perkara yang ma'ruf.

Angkatlah sarungmu hingga setengah betis, jika tidak maka hingga kedua mata kaki. Dan janganlah engkau julurkan sarungmu karena itu bagian dari sifat sombong,
sesungguhnya Allah tidak menyukai sifat sombong. Jika ada seseorang yang mencela dan memakimu karena cela yang ia ketahui darimu, maka janganlah engkau balas memaki karena cela yang engkau ketahui padanya, karena hal itu akan memberatkannya (pada hari kiamat)"   Hadits Shahih   (HR. Abu Dawud 4084, Lihat Silsilah Ahaadits as-Shohihah no. 1109.)

Hadits yang lainnya:

Hadits Kesepuluh:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ حُصَيْنِ بْنِ قَبِيصَةَ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ } رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آخِذًا بِحُجْزَةِ سُفْيَانَ بْنِ أَبِي سَهْلٍ{ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا سُفْيَانَ بْنَ سَهْلٍ لَا تُسْبِلْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْبِلِينَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Syarik dari Abdul Malik bin 'Umair dari Hushain bin Qabishah dari Al Mughirah bin Syu'bah dia berkata, (Saya melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memegang Hujzah (tempat mengikat kain) milik Sufyan bin Abu Sahl seraya bersabda) Rasulullah Shallallahu'alahi wassalam bersabda:

"Wahai Sufyan bin Sahl, janganlah kamu memanjangkan kain sarung/kain atau celana melebihi mata kaki, karena Allah membenci orang-orang yang memanjangkan kain sarung/kain atau celananya melebihi mata kaki."
  Hadits Shahih   (HR. Ibnu Majah no. 3574, Ibnu Hibban no. 1449, dan Ahmad dalam Musnadnya no. 18186, lafazh dalam kurung adalah milik Imam Ahmad, Hasan, lihat Silsilah Ahaadits Ash-Shohihah no. 4004)

Saudaraku...yang semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu...

Ketahuilah tidaklah aku tulis tulisan ini untuk memaksamu mengikuti apa yang telah jelas dalam dalil-dalil di atas, bahkan bisa jadi engkau akan mendapati berbagai macam tulisan di berbagai buku atau website/internet menyajikan wacana lain (bolehnya isbal tanpa sombong) selain apa yang telah jelas dari dalil-dalil diatas. Namun hanya satu saja yang aku inginkan kepadamu ...janganlah engkau ragu terhadap kebenaran petunjuk Nabi Shallallahu'alaihi wassalam dan terimalah itu sebagai penerang kehidupan bagimu dan bagiku.
Nah sekarang mari kita simak hadits yang berkaitan dengan keharusan kita untuk bersikap wara' (menjauhkan diri dari perkara-perkara yang samar hukum dan hakikatnya):

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنَا أَبُو فَرْوَةَ عَنْ الشَّعْبِيِّ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي فَرْوَةَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي فَرْوَةَ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَةٌ فَمَنْ تَرَكَ مَا شُبِّهَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ كَانَ لِمَا اسْتَبَانَ أَتْرَكَ وَمَنْ اجْتَرَأَ عَلَى مَا يَشُكُّ فِيهِ مِنْ الْإِثْمِ أَوْشَكَ أَنْ يُوَاقِعَ مَا اسْتَبَانَ وَالْمَعَاصِي حِمَى اللَّهِ مَنْ يَرْتَعْ حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ

Telah menceritakan kepada kami (Al-Bukhori) Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Adiy dari Ibnu 'Aun dari Asy-Sa'biy aku mendengar An-Nu'man bin Basyir radliallahu 'anhuma aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Uyainah telah menceritakan kepada kami Abu Farwah dari Asy-Sa'biy berkata, aku mendengar An-Nu'man bin Basyir telah menceritakan kepada kami, dia berkata, aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan diriwayatkan pula 'Abdullah bin Muhammad dari Ibnu 'Uyainah dari Abu Farwah aku mendengar Asy-Sa'biy aku mendengar An-Nu'man bin Basyir radliallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan (bin Uyainah) dari Abu Farwah dari Asy-Sa'biy dari An-Nu'man bin Basyir radliallahu 'anhu berkata, telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

"Yang HALAL SUDAH JELAS dan yang HARAM JUGA SUDAH JELAS. Namun diantara keduanya ada perkara yang SYUBHAT(samar). Maka barangsiapa yang meninggalkan perkara yang syubhat karena khawatir mendapat dosa, berarti dia telah meninggalkan perkara yang jelas keharamannya dan siapa yang banyak berdekatan dengan perkara yang syubhat maka bisa jadi dia akan jatuh pada perbuatan yang haram tersebut. Maksiat adalah semua larangan Allah. Maka siapa yang berada di dekat larangan Allah itu bisa jadi (dikhawatirkan) dia akan jatuh pada larangan tersebut".
  Hadits Shahih   (HR. Al-Bukhori no. 2051)

Tolok ukur dari hadits tersebut adalah semakin tinggi ilmu yang kita dapati maka konsekuensi untuk menjauhi dari berbagai syubhat akan dapat lebih tinggi daripada orang yang tidak mempunyai ilmu, dan ini termaktub dalam hadits yang agung berikut ini:

- حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَفَّانَ الْعَامِرِيُّ، ثنا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ الْقَطَوَانِيُّ، ثنا حَمْزَةُ بْنُ حَبِيبٍ الزَّيَّاتُ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «فَضْلُ الْعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ»

Telah mengabarkan kepada kami Abul Abbas Muhammad bin Ya'qub, telah mengabarkan kepada kami al-Hasan bin Ali bin Affan al-'Aamiri, telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Makhlad Al-Qathawani, telah mengabarkan kepada kami Hamzah bin Habib Az-Zayyat, dari al-A'masy dari al-Hakam dari Mus'ab bin Sa'ad bin Abi Waqqaash, dari bapaknya dari Nabi Shallallahu'alaihi wassalam, beliau bersabda,

"Keutamaan dalam ilmu lebih disukai daripada keutamaan dalam ibadah. Dan keislaman kalian yang paling baik adalah sifat wara'"
  Hadits Shahih Lighairihi   (HR. Al Hakim no. 314, Al-Baihaqy dalam kitab Al-Aadab no. 830, Al Bazzar no. 2969, Ath Thabrani dalam Al-Mu'jamul Ausath no. 3960. Lihat penilaian Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhiib 68 dan 1740)

Wahai saudaraku...ada apa denganmu dan sunnah seharga 5 dirham di atas? apalagi yang engkau tunggu untuk melaksanakan sunnah tersebut? apakah engkau ingin menjawab atau membantahnya dengan omongan-omongan orang yang tidak dijamin masuk surga? ataukah kecintaanmu kepada Suri Tauladan kita Nabi Shallallahu'alaihi wassalam sebatas kepada apa saja yang cocok dengan hawa nafsumu?...sungguh aku berharap agar diriku dan dirimu senantiasa dalam keadaan bergegas dalam melaksanakan sunnahnya Nabi Shallallahu'alaihi wassalam, karena hanya Kitab Allah dan Petunjuk Nabi Shallallahu'alaihi wassalam yang bisa menyelamatkan kita dari jalan gelap kesesatan yang tak berujung nan gelap gulita.
Simaklah nasehat agung dari Nabi Shallallahu'alaihi wassalam:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا، كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

"Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya yaitu: Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya." "   Hadits Hasan   (Hadist Riwayat Malik secara mursal dalm Al-Muwatha 2/899 dan Al-Hakim dari Hadits Ibnu Abbas secara maushul dan sanadnya hasan, juga hadist ini mempunyai syahid dari hadits jabir, lihat Takhrij Syaikh Albani dalam Silsilah Ahadits As-Shahihah no. 1761).

Demikian yang semoga bermanfaat sebagai pengingat dan motivasi bagi penulis dan pembaca sekalian".

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Ar-Rahba, pinggiran Abu Dhabi UAE, di dinginnya malam hari 16'C, Jum'at, 24 Shafar 1435 H/26 Desember 2013.


Abu Kayyisa,

Yang mendamba Ampunan dari Rabb Sang Pencipta Jagad Raya.

 

 

ARSIP ARTIKELs

Kajian Online UAE   

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran

Artikel Pembahasan - Pembahasan