Saturday, August 17, 2019
Text Size
User Rating: / 0
PoorBest 

 

Bersyukurlah dan jangan meminta-minta, sebuah motivasi dalam menambah syukur menggapai berkah yang halal.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian, bersyukurlah adalah kata yang mudah kita ucapkan apalagi ketika kita mengungkapkan suatu larangan kepada orang lain seperti jangan meminta-minta, itupun termasuk perkara yang mudah untuk diucapkan namun hakikatnya perlu kita tanamkan dalam diri kita dengan pemahaman yang didasari dalil dari al-Quran dan as-Sunnah.

– tulisan kali ini adalah mengenai motivasi dalam menambah syukur menggapai berkah yang halal, dan juga pembahasan tentang siapakah orang miskin, serta haramnya meminta-minta.

Pada tulisan sebelumnya   PART -1  telah dibahas tentang Doa ketika melihat musibah yang menimpa orang lain dan juga siapa yang termasuk golongan orang miskin?

Pada PART 2 ini akan dibahas kelanjutannya akan dibahas Haramnya Minta-minta dan Standar Orang disebut Kaya dan tidak boleh meminta-minta, dan insya Allah akan ada PART 3.

KETIGA : Tidak boleh (baca: HARAM) meminta-minta.

Islam tidak mensyari'atkan meminta-minta dengan berbohong dan menipu. Alasannya bukan hanya karena melanggar dosa, tetapi juga karena perbuatan tersebut dianggap mencemari perbuatan baik dan merampas hak orang-orang miskin yang memang membutuhkan bantuan. Bahkan hal itu merusak citra baik orang-orang miskin yang tidak mau minta-minta dan orang-orang yang mencintai kebaikan.

Di Abu Dhabi atau daerah-daerah sekitarnya, kalau ada orang yang penampilannya termasuk kategori kelas 3 (seperti penulis) yaitu orang-orang pendatang dari Bangladesh, Pakistan atau Indonesia (kucel, tidak perlente) mengucapkan salam kepada orang Lokal atau orang kategori kelas 1 (orang kaya), maka terkadang ada orang local (yang awam) akan mengira "Hemm ini orang mo minta-minta atau apa nih" sehingga ucapan salam pun menjadi makin "asing". Padahal orang-orang yang kategori 3 tersebut mengucapkan salam tulus hanya ingin menyapa dan mendoakan kesalamatan kepada orang-orang kategori pertama tersebut.

Banyak dalil yang menjelaskan haramnya meminta-minta dengan cara menipu dan tanpa adanya kebutuhan yang mendesak. Diantara hadits-hadits tersebut ialah sebagai berikut.

Hadits Pertama:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي جَعْفَرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ القِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ»

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al-Laits (bin Sa'ad bin Abdirrahman) dari 'Ubaidullah bin Abu Ja'far berkata; Aku mendengar Hamzah bin 'Abdullah bin 'Umar berkata; Aku mendengar, 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhu berkata, " Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda, " Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya."  Hadits Shohih   (HR al-Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1040 (104))

Hadits Kedua:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، وَيَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ حُبْشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ، فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ»

"Telah menceritakan kepada kami (Imam Ahmad) Yahya bin Adam dan Yahya bin Abu Bukair ia berkata, 'Telah menceritakan kepada kami Isra`il (bin Yunus) dari Abu Ishaq dari Hubsyi bin Junadah ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain bukan karena kefakiran (yang menimpanya)/ tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api."   Hadits Shahih Lighoirihi   (HR Ahmad no. 17508, dan ath-Thabrani dalam al-Mu'jamul-Kabiir no. 3506-3508. Lihat Shahih at-Targhib wat Tarhiib no. 802.)

Hadits Ketiga:

Riwayat hadits yang redaksinya hampir sama diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shohihnya:

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، وَوَاصِلُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، قَالَا: حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا، فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ»

"Telah menceritakan kepada kami (Imam Muslim) Abu Kuraib dan Washil bin Abdul A'la keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail dari Umarah bin Al Qa'qa' dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang meminta-minta kepada orang banyak untuk menumpuk harta kekayaan, berarti dia hanya meminta bara api. Sama saja halnya, apakah yang dimintanya sedikit atau banyak."   Hadits Shahih  (HR. Muslim no. 1041 (105))

Didalam kitab Mirqatul Mafaatih Syarah Misykatul Mashoobih 4/1309 cet. Daar al-Fikr th. 1422 H, Syaikh Ali Mula al-Qari menjelaskan makna "Takatstsuran" adalah:

تَكَثُّرًا أَيْ لِيَكْثُرَ مَالُهُ لَا لِلِاحْتِيَاجِ

Untuk menumpuk/memperbanyak harta kekayaan bukan karena kebutuhan.

Hadits Keempat:

حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي قَاصُّ أَهْلِ فِلَسْطِينَ قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ، يَقُولُ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " ثَلاثٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنْ كُنْتُ لَحَالِفًا عَلَيْهِنَّ لَا يَنْقُصُ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ فَتَصَدَّقُوا، وَلا يَعْفُو عَبْدٌ عَنْ مَظْلَمَةٍ يَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ بِهَا عِزًّا " وقَالَ أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ: " إِلا زَادَهُ اللهُ بِهَا عِزًّا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلا يَفْتَحُ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلا فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ "

"Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Umar bin Abu Salamah dari bapaknya berkata; telah menceritakan kepadaku seorang pendongeng dari palestina, dia berkata; saya mendengar Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tiga hal, demi dzat yang jiwa Muhammad ada di tangannya, jika memang aku terpaksa untuk bersumpah; Tidak akan berkurang harta karena sedekah maka bersedekahlah. Tidaklah seorang hamba memaafkan perbuatan kezhaliman karena mengaharap ridha Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya. - Abu Sa'id mantan budak Bani Hasyim berkata; "Kecuali Allah akan menambah kewibawaannya pada Hari Kiamat.-Tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta kepada orang lain kecuali Allah akan membukakan baginya pintu kefakiran."   Hadits Shahih Lighoirihi  (HR. Ahmad no. 1674, lihat Shohih at-Targhib wat Tarhiib no. 814)

Hadits Kelima:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عُبَادَةُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ خَبَّابٍ، عَنْ سَعِيدٍ الطَّائِيِّ أَبِي البَخْتَرِيِّ، أَنَّهُ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو كَبْشَةَ الأَنَّمَارِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «ثَلَاثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ» قَالَ: «مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ، وَلَا ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا، وَلَا فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا» «وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ» قَالَ: " إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ، عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ ": «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ»

"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami 'Ubadah bin Muslim telah menceritakan kepada kami Yunus bin Khabbab dari Sa'id Ath Tho'i Abu Al Bakhtari berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Kabsyah Al Anmari ia mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Tiga hal, aku bersumpah atasnya dan aku akan mengatakan suatu hal pada kalian, hendaklah kalian menjaganya." Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Tidaklah harta seorang berkurang karena sedekah, tidaklah seseorang diperlakukan secara lalim lalu ia bersabar melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya dan tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta melainkan Allah akan membukakan pintu kemiskinan untuknya -atau kalimat sepertinya- dan aku akan mengatakan suatu hal pada kalian, hendaklah kalian menjaganya." Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Sesungguhnya dunia itu untuk empat orang; (Pertama), seorang hamba yang dikarunia Allah harta dan ilmu, dengan ilmu ia bertakwa kepada Allah dan dengan harta ia menyambung silaturrahim dan ia mengetahui Allah memiliki hak padanya dan ini adalah tingkatan yang paling baik, (Kedua), selanjutnya hamba yang diberi Allah ilmu tapi tidak diberi harta, niatnya tulus, ia berkata: Andai saja aku memiliki harta niscaya aku akan melakukan seperti amalan si fulan, maka ia mendapatkan apa yang ia niatkan, pahala mereka berdua sama, (Ketiga), selanjutnya hamba yang diberi harta oleh Allah tapi tidak diberi ilmu, ia melangkah serampangan tanpa ilmu menggunakan hartanya, ia tidak takut kepada Rabb-nya dengan harta itu dan tidak menyambung silaturrahimnya serta tidak mengetahui hak Allah padanya, ini adalah tingkatan terburuk, (Keempat), selanjutnya orang yang tidak diberi Allah harta atau pun ilmu, ia bekata: Andai aku punya harta tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan si fulan yang serampangan mengelola hartanya, dan niatnya benar, dosa keduanya sama." Berkata Abu Isa: 'Hadits ini hasan shahih.'"   Hadits Shahih Lighoirihi  (HR. At-Tirmidzi no. 2325, lihat Shohih at-Targhib wat Tarhiib no. 869)

Hadits Keenam:

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَبْدِ المَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ المَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ، إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا، أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ»

"Mahmud bin Ghailan telah mengabarkan kepada kami (At-Tirmidzi), ia berkata; telah menceritakan kepada kami Waki', ia berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan (Ats-Tsauri) dari Abdul Malik bin Umair dari Zaid bin 'Uqbah dari Samurah bin Jundab, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Meminta-minta adalah pekerjaan yang berakibat seseorang mencakar wajahnya (di hari kiamat), kecuali seorang laki-laki yang meminta kepada penguasa atau perkara yang harus ia dapatkan."   Hadits Shahih   (HR. At-Tirmidzi no. 681, Abu Dawud no. 1639, an-Nasa-i no. 2600, Ibnu Hibban no. 3377 (at-Ta'liqatul Hisaan), Lihat Shohih Al-Jamiush Shoghir no. 1947)

Hadits keenam menyebutkan tentang bolehnya kita meminta kepada (Hukumah) penguasa, jika kita dalam kefakiran. Seseorang yang mengalami kesulitan, boleh meminta kepada penguasa karena penguasalah yang bertanggung jawab atas semuanya.

Saudaraku… semoga Allah senantiasa merahmatimu...

Lihatlah sosok shahabat yang mulia yang bernama Hakiim bin Hizaam radhiyallahu 'anhu, berdasarkan hadits berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ وَسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي ثُمَّ قَالَ يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى قَالَ حَكِيمٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَدْعُو حَكِيمًا إِلَى الْعَطَاءِ فَيَأْبَى أَنْ يَقْبَلَهُ مِنْهُ ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَعَاهُ لِيُعْطِيَهُ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ شَيْئًا فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أُشْهِدُكُمْ يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى حَكِيمٍ أَنِّي أَعْرِضُ عَلَيْهِ حَقَّهُ مِنْ هَذَا الْفَيْءِ فَيَأْبَى أَنْ يَأْخُذَهُ فَلَمْ يَرْزَأْ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنْ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تُوُفِّيَ

"Telah menceritakan kepada kami (Imam al-Bukhori) 'Abdan telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az-Zuhri dari 'Urwah bin Az-Zubair dan Sa'id bin Al Musayyib bahwa Hakim bin Hizam radliallahu 'anhu berkata,: "Aku pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam lalu Beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi, maka Beliau pun memberiku kembali. Kemudian aku meminta lagi, maka Beliu pun masih memberiku lagi seraya Beliau bersabda: "Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis, maka barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah". Hakim berkata; "Lalu aku berkata, (kepada Beliau); "Wahai Rasulullah, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, aku tidak akan mengurangi hak seorangpun (yang meminta) sepeninggal engkau hingga aku meninggalkan dunia ini". Suatu kali Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk diberikan sesuatu agar dia datang dan menerima pemberiannya. Kemudian 'Umar radliallahu 'anhu juga pernah memanggil Hakim untuk memberikan sesuatu namun Hakim tidak memenuhinya. Maka 'Umar radliallahu 'anhu berkata,: "Aku bersaksi kepada kalian, wahai kaum Muslimin, tentang Hakim (bin Hizaam). Sungguh aku pernah menawarkan kepadanya haknya dari harta fa'iy (harta yang didapat dari musuh tanpa peperangan) ini agar dia datang dan mengambilnya. Sungguh Hakim tidak pernah mengurangi hak seorangpun sepeninggal Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam hingga dia wafat."   Hadits Shahih   (HR. Al-Bukhari (no. 1472), Muslim (no. 1035), dan lainnya)

Saudaraku…siapakah sosok Hakiim bin Hizaam ? Beliau nama lengkapnya adalah Hakim bin Hizam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Ghazi Al-Asadi, dan mempunyai nama kunyah Abu Kholid al-Qurashy al-Asady, beliau merupakan ponakan Khadijah istri Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam. Sebelum dan setelah kenabian, beliau ini adalah teman akrab Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, sewaktu kaum Quraisy memboikot Rasulullah, beliau tidak termasuk, karena menghormati Nabi. Beliau baru masuk Islam ketika Fathu Makkah penaklukan kota Mekah dan terkenal sebagai orang yang banyak jasa, baik dan dermawan.

Beliau ikut dalam peperangan Hunain dan Thoif, beliau hidup selama 60 tahun di zaman jahiliyyah dan 60 tahun di zaman islam. Beliau adalah satu-satunya anak yang lahir dalam Ka'bah. Dimana dikisahkan bahwa suatu hari ibunya yang sedang hamil tua masuk ke dalam Kabah bersama rombongan orang-orang sebayanya untuk melihat-lihat Kabah. Ketika berada dalam Kabah, perut ibu tiba-tiba terasa hendak melahirkan. Dia tidak sanggup lagi berjalan keluar Kabah. Seseorang lalu memberikan tikar kulit kepadanya, dan lahirlah bayi itu di atas tikar tersebut. Bayi itu adalah Hakim bin Hizam bin Khuwailid, yaitu anak laki-laki dari saudara Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid. Beliau termasuk orang yang kaya di kalangan kaum quraish. Dicatat empat riwayat haditsnya oleh Imam Al-Bukhori dan Muslim) (Silahkan lihat Siyar A'lam an-Nubala 3/44-51 no. 12)

Kategory orang yang dibolehkan untuk meminta-minta

Kategory orang yang dibolehkan untuk meminta-minta adalah

  • Ghariim
  • Orang yang ditimpa musibah/bencana yang menghabiskan hartanya
  • Orang yang ditimpa kesengsaraan hidup/kemiskinan hingga diketahui oleh orang lain

Hal tersebut sebagaimana dalam hadits berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ كِلَاهُمَا عَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ هَارُونَ بْنِ رِيَابٍ حَدَّثَنِي كِنَانَةُ بْنُ نُعَيْمٍ الْعَدَوِيُّ عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ مُخَارِقٍ الْهِلَالِيِّ قَالَ تَحَمَّلْتُ حَمَالَةً فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْأَلُهُ فِيهَا فَقَالَ أَقِمْ حَتَّى تَأْتِيَنَا الصَّدَقَةُ فَنَأْمُرَ لَكَ بِهَا قَالَ ثُمَّ قَالَ يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ فَمَا سِوَاهُنَّ مِنْ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Qutaibah bin Sa'id keduanya dari Hammad bin Zaid - Yahya berkata- telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Zaid dari Harun bin Riyab telah menceritakan kepadaku Kinanah bin Nu'aim Al 'Adawi dari Qabishah bin Mukhariq Al Hilali ia berkata; Aku pernah menanggung hutang (untuk mendamaikan dua kabilah yang saling sengketa). Lalu aku datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, meminta bantuan beliau untuk membayarnya. Beliau menjawab: "Tunggulah sampai orang datang mengantarkan zakat, nanti kusuruh menyerahkannya kepadamu." Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: "Wahai Qabiishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain (ghariim, untuk mendamaikan dua orang yang saling bersengketa atau semisalnya), ia boleh meminta-minta sampai ia dapat melunasinya, kemudian tidak boleh lagi ia meminta-minta, (2) seseorang yang ditimpa musibah/bencana yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup/mata pencaharian yang layak baginya, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup/kemiskinan sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, 'Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,' ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah, itu adalah haram, dan orang yang memakannya (memakan dari hasil meminta-minta) adalah memakan yang haram."   Hadits Shahih   (HR Muslim no. 1044, Abu Dawud no. 1640, dan selainnya.)

KEEMPAT : Standar Orang disebut Kaya dan TIDAK BOLEH meminta-minta.

Telah kita bahas hadits tentang larangan meminta-minta seperti point yang pertama, disebutkan hadits, "Bukanlah disebut miskin orang yang bisa dicukupi dengan satu atau dua suap makanan. Akan tetapi yang disebut miskin adalah orang yang tidak memiliki kecukupan namun dia menahan diri (malu) atau yang tidak meminta-minta secara mendesak."

Apa maksud perkataan meminta-minta secara mendesak ? Mari kita simak hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي أَسَدٍ أَنَّهُ قَالَ نَزَلْتُ أَنَا وَأَهْلِي بِبَقِيعِ الْغَرْقَدِ فَقَالَ لِي أَهْلِي اذْهَبْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلْهُ لَنَا شَيْئًا نَأْكُلُهُ فَجَعَلُوا يَذْكُرُونَ مِنْ حَاجَتِهِمْ فَذَهَبْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدْتُ عِنْدَهُ رَجُلًا يَسْأَلُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا أَجِدُ مَا أُعْطِيكَ فَتَوَلَّى الرَّجُلُ عَنْهُ وَهُوَ مُغْضَبٌ وَهُوَ يَقُولُ لَعَمْرِي إِنَّكَ لَتُعْطِي مَنْ شِئْتَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْضَبُ عَلَيَّ أَنْ لَا أَجِدَ مَا أُعْطِيهِ مَنْ سَأَلَ مِنْكُمْ وَلَهُ أُوقِيَّةٌ أَوْ عِدْلُهَا فَقَدْ سَأَلَ إِلْحَافًا قَالَ الْأَسَدِيُّ فَقُلْتُ لَلِقْحَةٌ لَنَا خَيْرٌ مِنْ أُوقِيَّةٍ وَالْأُوقِيَّةُ أَرْبَعُونَ دِرْهَمًا قَالَ فَرَجَعْتُ وَلَمْ أَسْأَلْهُ فَقَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ شَعِيرٌ وَزَبِيبٌ فَقَسَمَ لَنَا مِنْهُ أَوْ كَمَا قَالَ حَتَّى أَغْنَانَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ أَبُو دَاوُد هَكَذَا رَوَاهُ الثَّوْرِيُّ كَمَا قَالَ مَالِكٌ

"Telah menceritakan kepada kami (Abu Dawud) Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Zaid bin Aslam dari 'Atho` bin Yasar dari seorang laki-laki dari Bani Asad bahwa ia berkata; aku dan keluargaku singgah di Baqi' yang terdapat padanya pohon Gharqad. Kemudian keluargaku berkata; 'Pergilah kepada Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam dan mintakan kepada Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam untuk kita sesuatu yang dapat kita makan.' Kemudian mereka menyebutkan sebagian dari keperluan mereka, lalu aku pergi kepada Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam dan aku dapati seorang laki-laki sedang meminta-minta kepada beliau sementara Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam bersabda,"Aku tidak memiliki sesuatu yang dapat aku berikan kepadamu." Kemudian orang tersebut pergi dari beliau dalam keadaan marah, dan berkata, "Demi umurku, sungguh engkau hanya memberi kepada orang yang engkau kehendaki." Maka Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam bersabda, "Ia marah kepadaku karena aku tidak mendapati sesuatu yang dapat kuberikan kepadanya. Barang siapa diantara kalian yang meminta-minta sedangkan ia memiliki satu uqiyah (setara dengan 40 dirham) atau yang setara dengannya maka sungguh ia telah meminta-minta dengan mendesak." Al Asadi berkata; sungguh unta Kami yang hampir melahirkan lebih baik daripada satu uqiyah. Satu uqiyah adalah 40 dirham. Laki-laki tersebut berkata; kemudian aku kembali dan tidak meminta-minta kepada beliau. Kemudian Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam setelah itu datang membawa gandum, dan kismis. Kemudian beliau membagikannya kepada kami, atau (lafazhnya) yang sebagaimana ia katakan, hingga Allah Azza wa Jalla memberikan kecukupan kepada kami. Abu Daud berkata, 'Demikianlah (Sufyan) Ats Tsauri meriwayatkannya sebagaimana yang dikatakan oleh Malik.'"   Hadits Shahih   (HR. Abu Dawud 1627, an-Nasa-I no. 2596, Malik dalam al-Muwaththo 2/ 999 no. 11, lihat Silsilah Ahaadits Ash-Shohihah no. 1719)

Ibnu Abdil Bar dalam kitabnya At-Tamhiid lima fil Muwaththo' minal Ma'ani wal Asaanid 4/174 menjelaskan :

وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مَنْعُ النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِلرَّجُلِ الَّذِي مَنَعَهُ حِينَ سَأَلَهُ مِنَ الصَّدَقَةِ لِأَنَّهُ كَانَ غَنِيًّا لَا تَحِلُّ لَهُ أَوْ مِمَّنْ لَا يَجُوزُ لَهُ أَخَذُهَا لِمَعَانٍ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ بِهَا وَفِيهِ أَنَّ السُّؤَالَ مَكْرُوهٌ لِمَنْ لَهُ أُوقِيَّةٌ مِنْ فِضَّةٍ وَالْأُوقِيَّةُ إِذَا أُطْلِقَتْ فَإِنَّمَا يُرَادُ بِهَا الْفِضَّةُ دُونَ الذَّهَبِ

Penolakan dari Nabi Shallallahu'alaihi wassalam kepada orang yang meminta shodaqah kepada beliau adalah diperbolehkan karena orang tersebut adalah orang kaya, tidak dihalalkan baginya untuk meminta-minta ataupun ketidakbolehan tersebut mempunyai makna yang lain dimana hanya Allah dan Rasul-Nya sajalah yang lebih mengetahui tentangnya. Dan di dalam hadits tersebut juga mengandung pengertian makruhnya meminta-minta bagi orang yang mempunyai harta satu uqiyah dan makna uqiyah disini adalah untuk perak bukan emas. (satu uqiyah dari perak atau sebesar 40 dirham atau sekitar 119 gram perak detailnya kalo dihitung adalah dengan ditaksir dengan harga emas).

Penulis menambahkan; selain satu uqiyah, ada juga kadar 50 dirham sebagaimana terdapat dalam hadits yang lainnya :

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا يُغْنِيهِ؟ قَالَ: «خَمْسُونَ دِرْهَمًا، أَوْ قِيمَتُهَا مِنَ الذَّهَبِ»

"Ada yang bertanya, 'Wahai Rasulullah, apa kadar batasan orang kaya yang tidak boleh baginya meminta-minta? 50 dirham atau yang nilainya setara dengan emas.'"   Hadits Shahih   (HR. HR. At-Tirmidzi no. 650, Abu Dawud no. 1626, Ibnu Majah no. 1840, Ahmad no. 3675 dari Abdullah bin Mas'ud, dishahihkan oleh Syaikh Albani rahimahullah dalam Silsilah Ahaadits Ash-Shohihah no. 499)

Batasan yang lain bagi seseorang untuk tidak melakukan minta-minta adalah apabila orang itu mempunyai 50 dirham atau nilai emas yang sebanding dengannya. Dikarenakan adanya perbedaan harga pasar perak/dirham dahulu (Zaman Nabi Shallallahu'alaihi wassalam) dan sekarang, dimana saat ini harga perak adalah sangat jauh murah dibandingkan dahulu sehingga setelah penulis bertanya dan didapatlah fatwa dari Syaikh Abdul Bary al-Hindi hafizhahullah tentang nilai uqiyah perak itu harus dihitung dengan membandingkannya dengan emas, maksudnya setelah diketahui satu uqiyah itu adalah 40 dirham dan 1 dinar itu senilai dengan 12 dirham. Lalu nilai detailnya adalah 40 dirham /12 = 3, 33 dinar, sedangkan 1 dinar setara dengan 4,25 gram emas, lalu dapat kita hitung sebagai berikut : 3,33 x 4,25 x harga jual emas murni/gram yang berlaku pada negeri itu. Melihat harga emas yang berlaku di Abu Dhabi 1 gram emas murni 24 karat senilai dengan 150 AED, jadi didapatkan 3,33 x 4,25 x 150 = 2122, 875 AED atau setara dengan 5.670.000,- Rupiah. Sedangkan 50 dirham akan senilai dengan 7.001.529,- Rupiah. Sehingga apabila orang memiliki uang kisaran diatas 5, 67 juta rupiah maka selayaknya ia mencukupkan diri untuk tidak melakukan perbuatan meminta-minta (baca: Tidak boleh meminta-minta).

Dari keterangan diatas telah dijelaskan secara detail batasan nominal orang yang tidak boleh minta-minta. Sedangkan tentang kaya dan miskin, batasan tersebut adalah berbeda-beda disesuaikan dengan keadaan daerah masing-masing dan juga keadaan masing-masing orang. Oleh karena itu benarlah apa yang dikatakan oleh Imam asy-Syafi'i yang dinukil oleh Syaikh Abu Abdirrahman al-Adzim Abaady dalam kitabnya Aunul Ma'buud Syarah Sunan Abi Dawud 5/23 (cet. Daar Al-Kutub al-Ilmiyyah th. 1415 H):

قَالَ الشَّافِعِيُّ قَدْ يَكُونُ الرَّجُلُ بِالدِّرْهَمِ غَنِيًّا مَعَ كَسْبٍ وَلَا يُغْنِيهِ الْأَلْفُ مَعَ ضَعْفٍ فِي نَفْسِهِ وَ كَثْرَةِ عِيَالِهِ

Imam as-Syafi'i berkata, "Bisa jadi seseorang yang mempunyai satu dirham termasuk orang yang kaya (karena beban pengeluarannya lebih kecil dari pemasukannya) dan bisa jadi seseorang yang memiliki seribu dirham tidak mencukupi untuk kebutuhan dirinya dan keluarganya yang banyak."

Kemudian Ibnu Abdil Bar dalam lanjutan penjelasannya mengemukakan:

فَمَنْ سَأَلَ وَلَهُ هَذَا الْحَدُّ وَالْعَدَدُ وَالْقَدْرُ مِنَ الْفِضَّةِ أَوْ مَا يَقُومُ مَقَامَهَا وَيَكُونُ عِدْلًا مِنْهَا فَهُوَ مُلْحِفٌ سَأَلَ إِلْحَافًا

"Maka barangsiapa meminta-minta sedangkan ia mempunyai kadar harta atau jumlah harta sama dengan satu uqiyah perak atau yang sebanding dengannya maka itu sudah termasuk meminta dengan mendesak." (Baca: minta-mintanya maksa lagi ngoyo dan nyosor).

Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam telah menjelaskan secara umum standar kaya yang mengharamkan seseorang dari perbuatan meminta-minta. Sebagaimana hadits berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ النُّفَيْلِيُّ حَدَّثَنَا مِسْكِينٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُهَاجِرِ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي كَبْشَةَ السَّلُولِيِّ حَدَّثَنَا سَهْلُ ابْنُ الْحَنْظَلِيَّةِ قَالَ قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُيَيْنَةُ بْنُ حِصْنٍ وَالْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ فَسَأَلَاهُ فَأَمَرَ لَهُمَا بِمَا سَأَلَا وَأَمَرَ مُعَاوِيَةَ فَكَتَبَ لَهُمَا بِمَا سَأَلَا فَأَمَّا الْأَقْرَعُ فَأَخَذَ كِتَابَهُ فَلَفَّهُ فِي عِمَامَتِهِ وَانْطَلَقَ وَأَمَّا عُيَيْنَةُ فَأَخَذَ كِتَابَهُ وَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَانَهُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَتُرَانِي حَامِلًا إِلَى قَوْمِي كِتَابًا لَا أَدْرِي مَا فِيهِ كَصَحِيفَةِ الْمُتَلَمِّسِ فَأَخْبَرَ مُعَاوِيَةُ بِقَوْلِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنْ النَّارِ وَقَالَ النُّفَيْلِيُّ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ مِنْ جَمْرِ جَهَنَّمَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا يُغْنِيهِ وَقَالَ النُّفَيْلِيُّ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ وَمَا الْغِنَى الَّذِي لَا تَنْبَغِي مَعَهُ الْمَسْأَلَةُ قَالَ قَدْرُ مَا يُغَدِّيهِ وَيُعَشِّيهِ وَقَالَ النُّفَيْلِيُّ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبْعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ

"Abdullah bin Muhammad An-Nufaili telah menceritakan kepada Kami (Abu Dawud), Miskin (bin Bukair) telah menceritakan kepada Kami (Abdullah bin Muhammad an-Nufaili), telah menceritakan kepada Kami (Miskin bin Bukair) Muhammad bin Al Muhajir, dari Rabi'ah bin Yazid dari Abu Kabsyah As-Saluli, telah menceritakan kepada kami (Abu Kabsyah) Sahl bin Al Hanzhalah, ia berkata; 'Uyainah bin Hishn dan Al Aqra' bin Habis datang kepada Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam dan meminta kepada beliau. Kemudian beliau memerintahkan agar keduanya diberi apa yang mereka minta serta memerintahkan kepada Mu'awiyah agar menuliskan untuk mereka apa yang mereka minta. Adapun Al Aqra' maka ia mengambil catatannya dan melipatnya pada surbannya dan pergi, adapun 'Uyainah maka ia mengambil catatannya dan datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di tempatnya, dan berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah anda berpendapat saya akan membawa sebuah catatan kepada kaumku yang tidak saya ketahui apa isinya, seperti selembar kertas yang menipu? Kemudian Mu'awiyah memberitahukan perkataannya tersebut kepada Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang meminta-minta sementara ia memiliki sesuatu yang mencukupinya maka sesungguhnya ia memperbanyak api Neraka." An Nufaili pada redaksi yang lain berkata; "Bara Neraka Jahannam". Kemudian mereka berkata, "Wahai Rasulullah, standar apa yang mencukupinya?" -An Nufaili berkata pada redaksi yang lain; "Standar kecukupan apakah yang menyebabkan orang tidak boleh meminta-minta? - Beliau bersabda, "Seukuran sesuatu yang dapat memberinya makan siang dan malam." An Nufaili berkata pada redaksi yang lain, "(Yaitu) ia kenyang selama sehari semalam, atau semalam dan sehari."   Hadits Shahih   (HR. Abu Dawud no. 1629, lihat Shohih at-Targhib wat Tarhiib no. 805)

Jadi telah jelas dari dhohir hadits diatas adalah standar kecukupan itu adalah apabila seorang dapat makan siang dan makan malam atau ia kenyang satu hari satu malam.

Kesimpulannya seseorang itu tidak boleh meminta-minta apabila dia memiliki kadar kecukupan:

  • 1 Uqiyyah atau 40 dirham atau 5,67 juta rupiah.
  • 50 dirham atau 7 jutaan rupiah
  • Dapat kecukupan untuk makan siang dan malam dalam sehari-semalam

Ketahuilah saudaraku, apabila seorang muslim hanya mendapatkan makanan untuk hari yang sedang ia jalani maka hal itu adalah kenikmatan yang sangat besar baginya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyinggung hal ini dalam sabdanya:

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مَالِكٍ، وَمَحْمُودُ بْنُ خِدَاشٍ البَغْدَادِيُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي شُمَيْلَةَ الأَنْصَارِيُّ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مِحْصَنٍ الخَطْمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا»

"Telah menceritakan kepada kami (At-Tirmidzi) 'Amru bin Malik dan Mahmud bin Khidashy Al Baghdadi keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu'awiyah telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abu Syumailah Al Anshari dari Salamah bin 'Ubaidillah bin Mihshan Al Khathmi dari bapaknya (Ubaidilah bin Mihshan radhiallahu'anhu) yang pernah bertemu dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Barangsiapa di antara kalian di pagi hari merasa aman ditengah-tengah keluarganya, diberikan kesehatan pada badannya, memiliki kebutuhan pokok untuk sehari-harinya, maka seakan akan dunia seluruhnya telah dikumpulkan untuknya."   Hadits Hasan   (HR. at-Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141, dan al-Bukhari dalam al-Adabul-Mufrad no. 300, dan selainnya. Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah no. 2318)

Saudaraku yang semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepadamu, simaklah hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا خَلَّادُ بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَاحِدِ بْنُ أَيْمَنَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: أَتَيْتُ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: إِنَّا يَوْمَ الخَنْدَقِ نَحْفِرُ، فَعَرَضَتْ كُدْيَةٌ شَدِيدَةٌ، فَجَاءُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: هَذِهِ كُدْيَةٌ عَرَضَتْ فِي الخَنْدَقِ، فَقَالَ: «أَنَا نَازِلٌ». ثُمَّ قَامَ وَبَطْنُهُ مَعْصُوبٌ بِحَجَرٍ، وَلَبِثْنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ لاَ نَذُوقُ ذَوَاقًا، فَأَخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المِعْوَلَ فَضَرَبَ، فَعَادَ كَثِيبًا أَهْيَلَ، أَوْ أَهْيَمَ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ائْذَنْ لِي إِلَى البَيْتِ، فَقُلْتُ لِامْرَأَتِي: رَأَيْتُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا مَا كَانَ فِي ذَلِكَ صَبْرٌ، فَعِنْدَكِ شَيْءٌ؟ قَالَتْ: عِنْدِي شَعِيرٌ وَعَنَاقٌ، فَذَبَحَتِ العَنَاقَ، وَطَحَنَتِ الشَّعِيرَ حَتَّى جَعَلْنَا اللَّحْمَ فِي البُرْمَةِ، ثُمَّ جِئْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالعَجِينُ قَدْ انْكَسَرَ، وَالبُرْمَةُ بَيْنَ الأَثَافِيِّ قَدْ كَادَتْ أَنْ تَنْضَجَ، فَقُلْتُ: طُعَيِّمٌ لِي، فَقُمْ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَرَجُلٌ أَوْ رَجُلاَنِ، قَالَ: «كَمْ هُوَ» فَذَكَرْتُ لَهُ، قَالَ: " كَثِيرٌ طَيِّبٌ، قَالَ: قُلْ لَهَا: لاَ تَنْزِعِ البُرْمَةَ، وَلاَ الخُبْزَ مِنَ التَّنُّورِ حَتَّى آتِيَ، فَقَالَ: قُومُوا " فَقَامَ المُهَاجِرُونَ، وَالأَنْصَارُ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَى امْرَأَتِهِ قَالَ: وَيْحَكِ جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَمَنْ مَعَهُمْ، قَالَتْ: هَلْ سَأَلَكَ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ: «ادْخُلُوا وَلاَ تَضَاغَطُوا» فَجَعَلَ يَكْسِرُ الخُبْزَ، وَيَجْعَلُ عَلَيْهِ اللَّحْمَ، وَيُخَمِّرُ البُرْمَةَ وَالتَّنُّورَ إِذَا أَخَذَ مِنْهُ، وَيُقَرِّبُ إِلَى أَصْحَابِهِ ثُمَّ يَنْزِعُ، فَلَمْ يَزَلْ يَكْسِرُ الخُبْزَ، وَيَغْرِفُ حَتَّى شَبِعُوا وَبَقِيَ بَقِيَّةٌ، قَالَ: «كُلِي هَذَا وَأَهْدِي، فَإِنَّ النَّاسَ أَصَابَتْهُمْ مَجَاعَةٌ»

"Khallad bin Yahya telah menceritakan kepada kami (Al-Bukhori), (Khallad berkata) Abdul Wahid bin Aiman telah menceritakan kepada kami, dari Ayahnya (Ayman) dia berkata, aku pernah menemui Jabir radhiallahu 'anhu, "Ketika kami menggali parit pada peristiwa khandaq, sebongkah batu yang sangat keras menghalangi kami, lalu para sahabat menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, mereka berkata, "Batu yang sangat keras ini telah menghalangi kami dalam menggali parit, lalu beliau bersabda, "Aku sendiri yang akan turun." Kemudian beliau berdiri (di dalam parit), semntara perut beliau tengah diganjal dengan batu (karena lapar). Semenjak tiga hari kami lalu tanpa ada makanan yang dapat kami rasakan, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengambil kampak dan memukulkan pada batu tersebut hingga ia menjadi pecah berantakan -atau hancur-. Aku lalu berkata, "Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk ke rumah." Setelah itu kukatakan kepada isteriku, "Aku melihat pada diri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sesuatu yang aku sendiri tidak tega melihatnya, apakah kamu memiliki sesuatu (makanan)?" isteriku menjawab, "Aku memiliki gandum dan anak kambing." Kemudian ia meyembelih anak kambing tersebut dan membuat adonan gandum hngga menjadi makanan dalam tungku, setelah itu aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sementara adonan mulai matang, dan periuk berada diantara dua tungku api dan hampir masak, maka aku berkata, "Aku memiliki sedikit makanan, silahkan menikmati wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersama dengan satu atau dua orang saja." Beliau bersabda: "(Makananmu mencukupi) Untuk berapa orang?" Lalu aku memberitahukan kepada beliau, beliau bersabda: "Tidak mengapa orang banyak untuk datang." Beliau bersabda lagi: "Katakan kepada isterimu, jangan ia angkat periuknya dan adonan roti dari tungku api hingga aku datang." Setelah itu beliau bersabda: "Bangunlah kalian semua." Maka bergegas kaum Muhajirin dan Anshar berdiri untuk berangkat (menuju rumah Jabir), ketika Jabir menemui Isterinya, dia berkata, "Duh, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah datang bersama kaum Muhajirin dan Anshar serta banyak orang-orang yang bersama mereka." Isteri Jabir berkata, "Memangnya beliau (Rasulullah) memintamu yang demikian?" Jabir menjawab, "Ya, begitu." Lalu Rasulullah berkata: "Masuklah dan jangan berdesak-desakan." Kemudian Rasulullah memotong-motong kecil/mencuil-cuil roti dan ia tambahkan dengan potongan daging, dan ia tutup periuk dan tungku api. Selanjutnya beliau ambil dan beliau dekatkan kepada para sahabatnya. Lantas beliau ambil kembali periuk itu dan terus menerus beliau tetap mencuili roti dan menciduknya hingga semua sahabat merasa kenyang dan masih menyisakan sisa. Setelah itu beliau bersabda: "Sekarang makanlah engkau (maksudnya isteri Jabir) dan kalau bisa, hadiahkanlah kepada yang lain, sebab banyak orang yang masih kelaparan."   Hadits Shahih   (HR. Al-Bukhori no. 4101)

Lihatlah gambaran perjuangan dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam dan para shahabatnya radhiallahu'anhum yang mengalami kelaparan, mereka tetap bersabar dan mau berbagi. Sedangkan kita lihat fenomena sekarang ini, "Kalo makan enak itu ya di KFC." "Kalo mau kenyang tu ya di McDonald"….Perhiasan dunia yang penuh gemerlap sudah menghancurkan kesederhanaan dan menumbuhkan standar kehidupan yang tinggi jauh dari Suri Teladan kita Shallallahu'alaihi wassalam.

Sekiranya kita mendapati saudara kita kelaparan atau membutuhkan makan hendaknya kita "peka" tidak perlu menunggu saudara kita untuk meminta kepada kita.

InSya Allah akan bersambung pada PART 3 dan masih panjaaaaang lagi...

Demikian yang semoga bermanfaat sebagai pengingat dan motivasi bagi penulis dan pembaca sekalian".

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Ar-Rahba Abu Dhabi, di malam yang bertiup angin penuh debu, Rabu, 2 Sya'ban 1434 H/11 Juni 2013.


Abu Kayyisa,

Yang mendamba Ampunan dari Rabb Sang Pencipta Jagad Raya.

 

 

ARSIP ARTIKELs

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran

Artikel Pembahasan - Pembahasan