Saturday, August 17, 2019
Text Size
User Rating: / 0
PoorBest 

 

Bersyukurlah dan jangan meminta-minta, sebuah motivasi dalam menambah syukur menggapai berkah yang halal.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian, bersyukurlah adalah kata yang mudah kita ucapkan apalagi ketika kita mengungkapkan suatu larangan kepada orang lain seperti jangan meminta-minta, itupun termasuk perkara yang mudah untuk diucapkan namun hakikatnya perlu kita tanamkan dalam diri kita dengan pemahaman yang didasari dalil dari al-Quran dan as-Sunnah.

– tulisan kali ini adalah mengenai motivasi dalam menambah syukur menggapai berkah yang halal, dan juga pembahasan tentang siapakah orang miskin, serta haramnya meminta-minta.

Ada peristiwa mengejutkan yang aku alami beberapa hari yang lalu. Tepatnya sore hari ketika pulang dari tempat kerja di Dubai, aku mengisi bensin di Pom Bensin baru di daerah antara Gantoot dan Shamha.

Ada gerak-gerik yang aneh ketika aku melihat ada sebuah mobil berplat KSA – Saudi Arabia, ada anak muda yang melihat-lihat sekeliling Pom Bensin dengan mata yang aneh, seolah-olah menginginkan sesuatu. Ketika aku selesai mengisi bensin dan beranjak keluar dari POM Bensin, tiba-tiba mobil Camry model 2013 warna hijau muda berplat KSA menyorotkan lampu dan membuka kacanya, seraya berkata, "Akhi, apakah bisa minggir sebentar ?" Aku jawab, "Boleh, tafadzhol apa yang bisa aku bantu?" Dia akhirnya keluar dari mobil camrynya, kulihat sosok pemuda yang sehat berpakaian rapi, berjenggot ala artis (dikerok kemudian disisakan sedikit sebagai "style"), tak lupa dia membuka kacamata hitam raybean nya, "Kaifal Hal ya Akhi ?" aku jawab, "Bi khoirin Alhamdulillah," dia pun bertanya, "Antum tinggal di sini sudah lama ?" aku jawab, "Ya Alhamdulillah sudah 7 tahun ini." Dia pun berkata, "Begini ya akhi, saya berasal dari Madinah al-Munawarrah, kesini untuk bermaksud tamasya, dan kebetulan saya membawa keluarga, namun sekarang ini keluarga saya belum makan siang dan sayapun kehabisan bekal." Kemudian diapun melanjutkan, "Kalau antum ada uang ya Akhi, tolonglah kami untuk keperluan makan dan bekal perjalanan kami balik ke Saudi." Sesaat aku tertegun, kaget dan melihat kejanggalan sempet terbersit dalam benakku, "Apa iya orang punya camry model 2013 datang dari Saudi dengan gaya perlente kemudian mengaku kehabisan uang?"

Akupun kemudian serta merta mengambil dompetku, ketika aku buka isinya sudah kosong karena habis untuk membayar bensin dan sisa membayar bensin tidak aku kembalikan ke dompet namun aku letakkan di loker samping pintu sekitar 20-an dirhams. Akupun clingukan untuk mencari sesuatu agar bisa diberikan ke orang tersebut, kemudian aku berkata kepadanya, "Afwan ya Akhi di dompetku tidak ada yang tersisa dari uangku." Lalu serta merta dia menjawab, "Kholas ya akhi tidak mengapa, kalau kamu tidak punya uang maka itu tidak mengapa." Kemudian aku menawarkan makanan cemilanku kepadanya, "Fadhol ya Akhi silahkan antum bawa." Diapun menjawab, "Tidak mengapa ya akhi buatmu saja, khoir insya Allah, kita adalah ikhwan (saudara) jadi tidak mengapa."

Setelah itu akupun mendoakan kepadanya, "Ya Akhi afwan jiddan, semoga Allah memudahkan urusan-urusanmu." Lalu diapun pergi melanjutkan perjalanannya. Akupun langsung berujar kepada diriku "Alhamdulillah Ya Allah Engkau telah mencukupkan aku dan memberikanku banyak sekali Nikmat dan dijauhkan dari meminta-minta seperti orang tersebut." Saat itu pun aku sadar bahwa betapa banyak limpah nikmat Allah kepadaku dan Allah tidak menjadikanku seperti orang tersebut.

Selama perjalanan pulang, akupun masih berfikir bagaimana bisa orang perlente dari Saudi …ngakunya dari Madinah lagi…memakai mobil camry 2013…meminta-minta kepada orang "Cepethe" (orang yang berpenghasilan pas-pasan) orang pendatang seperti aku, kenapa dia tidak meminta kepada orang-orang local ataupun orang yang mobilnya lebih keren dari dia? Terbersit pula pertanyaan, kenapa dia tidak menjual aja barang-barang yang ia punyai untuk ditukar dengan uang sebagai bekal dia untuk pulang, misalnya kacamata raybeannya atau aksesoris yang dia punyai di mobilnya. Akupun dalam hati berujar, "Kalo tadi dia tidak pake mobil camry kemudian kondisinya memang membutuhkan sangat akan bekal mungkin dia akan bertanya "Silahkan akhi kalau kamu berkenan untuk membeli kacamataku." Dan akupun akan mengiyakannya dengan membawanya ke Pom Bensin berikutnya yang ada mesin ATM disana.

Hemm…akupun curiga jangan-jangan dia akan ke Pom Bensin Shamha (pom bensin yang terletak dekat dengan rumahku). Ternyata benar, ketika aku melintas di Pom Bensin Shamha, kulihat mobilnya menuju parkiran, Allahu A'laam apa yang akan dia lakukan.

Dari kisah nyata di atas ada pelajaran berharga yaitu: (Beberapa dalil dijelaskan haditsnya secara panjang termasuk rantai sanadnya, hal ini semata-mata karena dalam website ini penulis bermaksud untuk memberikan "Ziyadatul Faidah" tambahan faidah berupa pengenalan sanad, hal ini inSha Allah akan bermanfaat bagi diri penulis dan semoga juga bagi yang membacanya - oleh karena itu website ini dinamakan belajarhadits)

PERTAMA : Ucapkanlah doa ketika melihat musibah yang menimpa orang lain

Wajibnya kita bersyukur kepada Allah terhadap segala kenikmatan yang telah diberikan kepada kita. Dan hendaknya kita mengucapkan doa ketika kita melihat orang ditimpa musibah agar musibah tersebut tidak menimpa kepada kita.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً

Segala puji bagi Allah yang menyelamatkan aku dari sesuatu yang Allah memberi cobaan kepadamu. Dan Allah telah memberi kemuliaan kepadaku, melebihi orang banyak "

Doa tersebut diambil dari hadits yang selengkapnya berikut ini:

حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ السِّمْنَانِيُّ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا مُطَرِّفُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ المَدِينِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ العُمَرِيُّ، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ رَأَى مُبْتَلًى، فَقَالَ: الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا، لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ البَلَاءُ

"Abu Ja'far As Simnaani (wafat 219 H, tsiqah) telah menceritakan kepada kami (At-Tirmidzi) dan tidak hanya satu orang perawi, mereka (para perawi hadits) mengatakan; Mutharrif bin Abdullah Al Madini (wafat 220 H, tsiqah dan Tidak benar Ibnu Ady dalam pendhoifannya) telah menceritakan kepada kami (Abu Ja'far), Abdullah bin Umar Al 'Umari (wafat 171 H, dhoif Aabid – lemah dan ahli ibadah) telah menceritakan kepada kami (Mutharrif) dari Suhail bin Abu Shalih (Suhail bin Dzakwan, Shoduq Taghoyyara Hifzhahu bi Akhiratin Benar berubah hafalannya ketika akhir hidupnya) dari ayahnya (Dzakwan, tsiqah tsabat – terpercaya lagi kokoh hafalannya) dari Abu Hurairah (radhiallahu’anhu), ia berkata; "Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam bersabda: 'Barang siapa melihat orang yang tertimpa musibah kemudian mengucapkan; Al HAMDULILLAAHILLAADZII 'AAFAANII MIMMAABTALAAKA BIHI WA FADHDHALANII 'ALAA KATSIIRIN MIMMAN KHALAQA TAFDHIILAN (segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang diberikan kepadamu, dan melebihkanku atas kebanyakan orang yang Allah ciptakan) maka ia tidak tertimpa musibah tersebut."  Hadits Hasan   (HR. at-Tirmidzi no. 3432, lihat Silsilah Ahaadits as-Shohihah no. 602)

Orang yang terjerumus kepada "kebiasaan" meminta-minta itu adalah ditimpa musibah yang besar. Sehingga bagi kita yang mengetahuinya hendaknya kita berdoa kepada Allah sebagaimana doa tersebut. Dan selayaknya bagi kita untuk bertambah syukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya termasuk tidak dijadikan kita seperti orang yang ditimpa musibah tersebut.

KEDUA : Siapa yang termasuk golongan orang miskin?

Saudaraku…yang semoga Allah senantiasa memberikanmu keberkahan…tahukah engkau siapakah yang termasuk golongan yang disebut sebagai orang miskin ? mari kita simak hadits yang mulia berikut ini:

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ حَكِيمِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَأَلَ وَلَهُ مَا يُغْنِيهِ، جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ خُمُوشٌ، أَوْ خُدُوشٌ، أَوْ كُدُوحٌ فِي وَجْهِهِ»، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْغِنَى؟، قَالَ: «خَمْسُونَ دِرْهَمًا، أَوْ قِيمَتُهَا مِنَ الذَّهَبِ»

“Telah menceritakan kepada Kami Al Hasan bin Ali, telah menceritakan kepada Kami Yahya bin Adam, telah menceritakan kepada Kami Sufyan dari Hakim bin Jubair dari Muhammad bin Abdurrahman bin Yazid dari ayahnya (Abdurrahman bin Yazid) dari Abdullah (bin Mas'ud), ia berkata; Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang meminta-minta sementara ia memiliki sesuatu yang mencukupinya maka pada Hari Kiamat terdapat luka pada wajahnya." Abdullah berkata; wahai Rasulullah, Berapa kadar kecukupan yang menjadikannya tidak boleh minta-minta? Beliau berkata: "Lima puluh dirham, atau senilai dengannya dari emas."   Hadits Shohih   (HR. At-Tirmidzi no. 650, Abu Dawud no. 1626, Ibnu Majah no. 1840, Al-Hakim no. 1479, Shohih lihat Silsilah Ahaadits as-Shohihah no. 499)

حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَيْسَ المِسْكِينُ الَّذِي تَرُدُّهُ الأُكْلَةَ وَالأُكْلَتَانِ، وَلَكِنِ المِسْكِينُ الَّذِي لَيْسَ لَهُ غِنًى، وَيَسْتَحْيِي أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا»

"Telah menceritakan kepada kami (al-Bukhori) Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami Syu'bah (Syu'bah bin Al Hajjaj bin Al Warod) telah mengabarkan kepada saya (Syu'bah) Muhammad bin Ziyad, dia (Muhammad) berkata, "Aku mendengar Abu Hurairah radhiallahu'anhu dari Nabi Shallallahu'alaihi wasallam: "Bukanlah disebut miskin orang yang bisa dicukupi dengan satu atau dua suap makanan. Akan tetapi yang disebut miskin adalah orang yang tidak memiliki kecukupan namun dia menahan diri (malu) atau yang tidak meminta-minta secara mendesak"   Hadits Shohih   ( HR. Al Bukhari no. 1476).

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ يَعْنِي الْحِزَامِيَّ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ، فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ، وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ» قَالُوا، فَمَا الْمِسْكِينُ؟ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ، وَلَا يُفْطَنُ لَهُ، فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ، وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا»

"Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Al Mughirah Al Hizami dari Abu Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang miskin bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta kepada orang banyak, lalu peminta itu diberi sesuap dua suap, atau sebutir dua butir kurma." Para sahabat bertanya, "Kalau begitu, seperti apakah orang yang miskin itu?" Beliau menjawab: "Orang miskin sesungguhnya ialah mereka yang tidak memiliki kecukupan untuk menutupi kebutuhannya, namun keadaannya itu tidak diketahui orang supaya orang bersedekah padanya, dan tidak pula meminta-minta ke sana ke mari."   Hadits Shohih   ( HR. Al-Bukhori no. 1479 dan Muslim no. 1039 (101)).

Imam An-Nawawi dalam kitabnya Syarah Shohih Muslim menjelaskan apa makna miskin yang tercantum dalam hadits di atas:

قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم (ليس المسكين هذا الطَّوَّافِ) إِلَى قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمِسْكَيْنِ (الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ) إِلَى آخِرِهِ مَعْنَاهُ الْمِسْكِينُ الْكَامِلُ الْمَسْكَنَةِ الَّذِي هُوَ أَحَقُّ بِالصَّدَقَةِ وَأَحْوَجُ إِلَيْهَا لَيْسَ هُوَ هَذَا الطَّوَّافُ بَلْ هُوَ الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلَا يُفْطَنُ لَهُ وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ وَلَيْسَ مَعْنَاهُ نَفْيَ أَصْلِ الْمَسْكَنَةِ عَنِ الطَّوَافِ بَلْ مَعْنَاهُ نَفْيُ كَمَالِ الْمَسْكَنَةِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ واليوم الآخر إِلَى آخِرِ الْآيَةِ

"Maksud sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam tentang istilah miskin, (orang yang tidak mendapati kekayaan yang mencukupi kebutuhannya) sampai akhir hadits, maknanya adalah miskin yang benar-benar miskin (miskin yang levelnya paling tinggi) adalah orang yang paling berhak untuk diberikan shodaqah dan sangat butuh terhadap shodaqah tersebut dan dia bukanlah orang yang berkeliling (untuk meminta-minta) namun dia tidak mendapati kekayaan yang mencukupi kebutuhannya dan keadaannya itu tidak diketahui orang supaya orang bershodaqah kepadanya, dan tidak pula meminta-minta ke sana ke mari. Makna dari hadits tersebut bukanlah meniadakan intepretasi bahwa orang yang berkeliling meminta-minta itu bukanlah termasuk golongan miskin namun maknanya adalah meniadakan level kemiskinannya (orang yang berkeliling meminta-minta itu) bukanlah golongan miskin yang paling tinggi seperti firman Allah (QS. Al-Baqarah : 177) . bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu merupakan suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian dan sampai selesainya ayat (…malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.) 7/129 (cet. Dar Ihya At-Turats Beirut cet. 1392)."  

Hal serupa juga dikatakan oleh Ibnu Abdil Bar dalam kitabnya At-Tamhiid lima fil Muwaththo' minal Ma'ani wal Asaanid 2/174 cet. Wizarah Auqaf was Syuun Islamiyah Al-Maghrib - Maroko,

أَنَّ قَوْلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِالطَّوَّافِ عَلَيْكُمْ مَعْنَاهُ لَيْسَ السَّائِلُ بِأَشَدِّ النَّاسِ مَسْكَنَةً لِأَنَّ الْمُتَعَفِّفَ الَّذِي لَا يسئل النَّاسَ وَلَا يُفْطَنُ لَهُ أَشَدُّ مَسْكَنَةً مِنْهُ فَكَذَلِكَ قَوْلُهُ لَيْسَ الْبِرَّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ مَعْنَاهُ لَيْسَ الْبِرُّ كُلُّهُ فِي الصِّيَامِ فِي السَّفَرِ لِأَنَّ الْفِطْرَ فِي السَّفَرِ بِرٌّ أَيْضًا لِمَنْ شَاءَ أَنْ يَأْخُذَ بِرُخْصَةِ اللَّهِ تَعَالَى

"Sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam "Tidaklah termasuk miskin orang yang berkeliling meminta-minta kepada kalian" maknanya adalah bukanlah orang yang meminta-minta itu menempati kemiskinan yang posisi levelnya tertinggi namun orang yang menjaga diri dari tidak meminta-minta kepada manusia dan tidak pula diketahui keadaan kemiskinannya itu adalah menempati posisi level kemiskinan yang tertinggi. Dan demikian pula bukanlah termasuk kebajikan melakukan puasa bagi orang yang safar, maknanya adalah bukanlah termasuk kebajikan secara keseluruhan melakukan puasa bagi orang yang bersafar hal ini karena tidak berpuasa ketika safarpun termasuk kebajikan pula bagi orang yang menghendaki untuk mengambil rukhshoh (keringanan) dari Allah."  

Saudaraku dari penjelasan diatas kita dapat mengambil contoh bukanlah orang yang mempunyai gaji 5 juta rupiah perbulan itu kaya bisa jadi dia itu termasuk miskin karena apa yang dia dapat adalah 5 juta sedangkan kebutuhannya dia adalah 6 juta, sehingga orang ini adalah termasuk kategori orang miskin.

Lho lalu ada pertanyaan, siapa itu faqir, mana yang lebih membutuhkan bantuan faqir atau miskin?

Para ulama berselisih tentang siapa diantara faqir dan miskin yang lebih membutuhkan bantuan dan manakah keadaan yang paling menderita. Dan yang lebih kuat adalah pendapat dari Imam Ahmad dan Imam asy-Syafi'I serta selainnya, bahwa faqir itu lebih membutuhkan bantuan daripada miskin dengan dalil-dalil sebagai berikut:

Pertama: Firman Allah:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ

"Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin." (QS. At-Taubah : 60)

Dalam ayat tersebut disebutkan terlebih dahulu faqir karena mengandung prioritas dan zakat itu ditujukan kepada orang yang membutuhkan dan siapa yang lebih membutuhkan maka pantas untuk disebutkan terlebih dahulu.

Kedua: Firman Allah:

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ

"Bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka." (QS. Al-Hasyr: 8)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa faqir adalah orang yang tidak mempunya harta sama sekali bahkan tidak mempunyai kemampuan untuk mencukupi kebutuhannya.

Ketiga : Firman Allah:

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ

"Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut…" (QS. Al-Kahfi: 79)

Orang-orang miskin itu masih mempunyai kapal namun hal itu masih kurang untuk mencukupi kebutuhannya. (Lihat az-Zakat fil Islam fi Dhoil Kitab was Sunnah oleh Syaikh Sa'id bin Ali bin Wahf al-Qahthani, hal 239 cet. Markaz Ad-Dawah wal Irsyad bil Qashob th. 1431/2010)

Jadi dapat disimpulkan bahwa orang fakir adalah orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan kemampuan untuk memenuhi penghidupannya. Sedangkan orang miskin adalah orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kurang dalam mencukupi kebutuhan pokoknya.

Bersambung ke PART 2, inSha Allah...masih puanjaaaaang.

Demikian yang semoga bermanfaat sebagai pengingat dan motivasi bagi penulis dan pembaca sekalian".

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Dubai, menjelang Dzuhur disela-sela kesibukan menjelang istirahat siang, Selasa, 18 Rajab 1434 H/28 May 2013.


Abu Kayyisa,

Yang mendamba Ampunan dari Rabb Sang Pencipta Jagad Raya.

 

 

 

ARSIP ARTIKELs

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran

Artikel Pembahasan - Pembahasan