Friday, November 21, 2014
Text Size
User Rating: / 6
PoorBest 

 

SEJARAH AKUPUNKTUR

 Akupunktur berasal dari dua kata Acus dan punctura. Acus artinya jarum dan punctura artinya menusuk atau tusukan. Secara harfiah acupuncture dapat diartikana sebagai suatu teknik pengobatan dengan menusukan jarum pada titik-titik akupunktur tertentu sesuai dengan indikasi yang ada. Metode pengobatan akupunktur dalam bahasa aslinya bahasa Cina disebut Zhen Jiu. Zhen artinya jarum dan Jiu artinya pemanasan/api. Mengapa dalam tradisi pengobatan Cina akupuntur lebih dikenal dengan sebutan Zhenjiu?. Hal ini dikarenakan disamping menggunakan teknik perangsangan titik-titik akupunktur dengan menggunakan tusukan jarum pengobatan Zhenjiu juga menggunakan moksa. Sekarang apa itu moksa? Moksa atau moksisbusi adalah suatu teknik perangsangan titik akupunktur dengan menggunakan efek panas (moksibusi) dari sejenis tanaman obat yang dikenal dengan Artemisia vulgaris. Tanaman ini dekringkan lalu dibuat menjadi bentuk batang atau kerucut kecil atau dibiarkan dalam bentuk serbuk untuk kemudian dibakar dan akan menghasilkan panas. Efek panas yang ditmbulkan dari pembakaran Artemisia inilah yang digunakan untuk menstimulasi atau merangsang titik-titik akupuktur yang sudah ditentukan berdasarkan indikasi penyakit yang ada.

Ilmu Akupunktur, Akupressure, Cop–Moksibusi adalah bagian dari ilmu pengobatan Cina. Menurut buku Huang Ti Nei Cing (The Yellow Emperor's Classic of Internal Medicine) ilmu ini telah berkembang sejak Jaman Batu, yaitu kira-kira 4–5 ribu tahun yang lalu, di mana digunakan jarum batu untuk menyembuhkan penyakit. Sebuah kasus di ungkapkan buku tersebut adalah penyembuhan abses dengan penusukan jarum batu.

Buku Huang Ti Nei Ting merupakan sebuah buku ensiklopedi Ilmu Pengobatan Cina yang diterbitkan pada zaman Cun Ciu Can Kuo yaitu tahun-tahun antara 770–221 sebelum Masehi. Pada zaman tersebut Ilmu Akupunktur, Akupressure, Cop–Moksibusi berkembang seperti ilmu-ilmu lainnya di negara tersebut. Bahan jarum berubah dari batu ke bambu, dari bambu ke tulang dan dari tulang ke perunggu. Seorang ahli pengobatan pada zaman itu yang bernama Pien Cie telah berhasil menyembuhkan seorang pangeran bernama Hao dengan jarum perunggu dari ketidaksadaran selama setengah hari. Pien mengungkapkanya pengetahuannya dalam buku Nan Cing di mana ia menguraikan cara pengobatan dengan jarum perunggu serta menjelaskan persoalan-persoalan mengenai meridian dan titik Akupunktur. Dalam buku Huang Ti Nei Cing diungkapkan juga mengenai meridian, titik akupunktur, teknik pengobatan dan perjalanan penyakit serta pengobatanya. Menurut catatan sejarah negara itu, pada zaman Dinasti Tang (tahun 265–960), ilmu Akupunktur berkembang dengan subur dan mulai menyebar ke luar negara asalnya yaitu ke Korea, Jepang dan negara lainnya. Pada waktu itu sebuah buku Cia I Cing yang ditulis dan disusun oleh seorang ahli pengobatan terkemuka Huang Pu Mi secara terperinci menjelaskan inti sari literatur-literatur ahli pengobatan sebelumnya disertai pengolahan pengalaman pribadinya. Buku inilah yang menyebar ke luar negara asalnya dan sampai saat ini masih menjadi buku referensi penting bagi seorang akupunkturis .

Seorang akupunkturis terkemuka lainnya pada zaman itu adalah Sun Se Miao (tahun 581–682) menulis buku Cien Cin Yao Fang dan Cien Cin I Fang yang memberi penjelasan dan kesimpulan atas pengetahuan para ahli sebelumnya. Dan ahli akupunktur lainnya yang bernama Cen Cien (tahun 541–643) melukiskan peta berwarna untuk menerangkan meridian dan titik akupunktur serta menguraikan tentang pengobatan moksibusi untuk pencegahan penyakit.

Pada Dinasti Ming (tahun 960–1644) di mana teknik cetak dan seni pahat berkembang luas, ilmu akupunktur tersebar pula bersama dengan ilmu-ilmu lainnya. Dan di masa itu, Wang Wei I seorang ahli pengobatan membuat patung perunggu yang melukiskan perjalanan meridian serta letak titik-titiknya, sebuah sumbangan bagi pendidikan akupunktur. Pada zaman itu lahir pula buku penting dalam bidang akupunktur yaitu Cen Ciu Ta Cen yang disusun oleh Yang Ci Ceu, dimana ia meletakan dasar baru bagi ilmu akupunktur setelah buku Huang Ti Nei Cing. Buku tersebut pada masa kini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, misalnya Jepang, Inggris, Jerman, Prancis. Diantara tahun 1644–1911, Dinasti Cing ilmu akupunktur tidak banyak mengalami perkembangan. Buku referensi akupunktur yang dihasilkan pada zaman itu tidak banyak, di antaranya I Cung Cin Cien yang cukup bernilai untuk dijadikan referensi pengetahuan akupunktur.

Menjelang pertengahan abad XX ini, ilmu akupunktur dari masa tenangnya kembali berkembang dengan mengadakan penyesuaian terhadap tuntutan zaman serta perkembangan ilmiah zaman modern. Praktek akupunktur tidak lagi hanya dilakukan ahli pengobatan Cina saja tetapi juga dilakukan oleh para dokter lulusan fakultas kedokteran dari universitas di seluruh Cina. Pada tahun 1951 dibentuk sebuah Institut Pengobatan Akupunktur Cina dan sejak tahun 1955 ilmu akupunktur merupakan mata pelajaran dalam perguruan tinggi kedokteran di negara tersebut. Dan tahun 1956 didirikan 5 College pengobatan Cina termasuk ilmu akupunktur di kota Peking, Nanking, Shanghai, Kanton dan Cen Tu. Pada tahun 1958 mereka mulai mengintensifkan riset dalam bidang ilmu pengobatan akupunktur–moksibusi, dan mulailah banyak literatur-literatur tentang akupunktur diterbitkan dan disebar luaskan. Sejak tahun 1968 mulai diadakan riset penggunaan ilmu akupunktur dalam pembedahan sebagai anastesia. Kasus-kasus meliputi 400.000 buah telah dilakukan dan tetap berlangsung penambahan sampai saat ini. Kasus meliputi antara lain : tonsilektomi, pencabutan gigi, apendektomi, oprasi caesar, ovarietomi, koangiografi, pengangkatan tumor otak dan sebagainya. Dan mereka masih tetap mengadakan riset terhadap peranan akupuntur sebagai anastesi dalam pembedahan .

Ilmu akupunktur di negara Jepang juga berkembang dengan baik dan luas. Diungkapkan sejak tahun 259 SM ilmu akupunktur telah berkembang di negara tersebut berkat seorang ahli pengobatan Jepang bernama Jofku yang berasal dari Cina. Pada masa kini sekolah dan perguruan tinggi akupuntur telah tersebar di berbagai kota besar seperti, Tokyo, Osaka, Kyoto, Yokohama. Bahkan di Tokyo terdapat sebuah sekolah akupunktur dimana tunanetra turut dididik dan mempraktekan ilmu akupunktur ini. Diperkirakan di Jepang terdapat 500.000 akupunkturis yang berpraktek.

Di negara Korea ilmu akupuntur diperkirakan masuk sejak 2000 tahun yang lampau. Pada tahun 1963 Profesor Kim Bong Han, ahli biologi dari Universitas Pyong Yang telah meneliti, menjelaskan serta mendemontrasikan secara histologis dan elektro biologis tentang meridian dan titik akupunktur dalam Teori Sistem Kyung Rak (Cing Luo dalam bahasa Korea). Dinyatakan bahwa titk akupunktur terletak di dalam benda-banda kecil (korpuskel) dalam se-sel di bawah kulit manusia (diberi nama Korpuskel Bonghan), di dalam korpuskel terdapat DNA (desoxyribornucleic acid) yang berfungsi penting dalam metabolisme tubuh. Bilamana teori dari Profesor Kim Bong Han ini telah diakui secara internasional maka ini merupakan sebuah revolusi dalam bidang ilmu kedokteran.

Wilhelem ten Rhyne, seorang dokter V.O.C dalam bukunya mengenai rematik yang diterbitkan di London tahun 1683 mengungkapkan tentang pengobatan rematik dengan akupunktur. Engelbert Kampfer, seorang Jerman, di Jepang mempelajari ilmu akupunktur dan menulis tentang akupunktur dalam bukunya pada tahun 1712. Mereka inilah yang telah menggugah perhatian Eropa terhadap ilmu akupunktur.

Kemudian pada akhir abad XVIII, Louise Berlioz mempelajari ilmu pengobatan Cina, pada tahun 1863 dalam bukunya mengenai pengobatan Cina diungkapkan dengan jelas ilmu akupunktur. Dan pada abad XX, seorang Konsul Prancis di Cina yang bernama Soulie De Morant karena tertariknya terhadap falsafah Cina, mulai mempelajari bahasa mandarin dan cara pengobatan akupunktur di tempat tugasnya itu. Setelah kembali ke negaranya ia menterjemahkan buku akupunktur dari bahasa Cina ke dalam bahasa Prancis, serta menganjurkan para dokter Prancis mempelajari ilmu akupunktur. Bukunya tentang akupunktur–moksibusi merupakan buku pertama akupunktur di negara Barat. Akhir-akhir ini cara pengobatan akupunktur telah berkembang di Prancis, serta diperkirakan terdapat 500 dokter yang praktek akupuntur di negara itu. Dan French Nasional Service, sebuah badan nasional Prancis, telah mengakui Ilmu akupunktur dan ongkos pengobatan dengan akupunktur dapat ditagih atau dipikul oleh badan tersebut. Pada masa kini telah didapati lebih dari 10 Rumah Sakit di Prancis mempunyai Bagian Akupunktur untuk melayani kebutuhan masyarakatnya. Di negara tersebut didapati sebuah organisasi akupunktur yang bersifat Nasional yaitu La Sociate Fran Caise D'acupuncture yang saat ini diketuai oleh Dr. J. C. de Tymowski. Organisasi ini yang mengadakan Konggres Akupunktur Internasional setiap tahun bagi akupunkturis diseluruh dunia. Organisai yang lain adalah L'Organisatiaon Pour Etude et Le Development de L'Acupuncture.

John Tweedale dari Lyme Regis memperkenalkan akupunktur di Inggris pada awal abad XIV dalam buku Lancet terbitan 1823 dimana dilaporkan tentang keberhasilan pengobatan akupunktur. Di tahun 1827 dilaporkannya keberhasilan gemilang dalam pengobatan anasarka dengan akupunktur. Dalam tahun yang sama Dr. John Elliotson dari St. Thomas Hospital melaporkan hasil pengobatan akupunktur terhadap 100 kasus rematik menahun. Dan masa kini, Felix Mann dari Inggris dengan buku-bukunya tentang akupunktur: The Ancient Chinese Art of Healing, Acupuncture Points, Anatomical Charts of Acupuncture Points, Meredian and Extra Meredian, Atlas of Acupuncture menyebarkan ilmu ini secara luas ke seluruh dunia.

Dr. Engelbrecht Kampfer yang disebut di atas menulis buku Curatio Colicae per Acupuncture Japonibus Usitata yang merupakan buku pertama tentang akupunktur di Jerman (tahun 1712). Pada abad ini didapati beberapa akupunkturis terkemuka di Jerman, antara lain Dr. Gerhard Bachman yang menulis tentang akupunktur dalam bukunya antara lain Die Akupunktur Eine Ordnungstherapie pada tahun 1959 .

Di Amerika Serikat, ilmu akupunktur telah berkembang lama dalam lingkungan Cina Town di kota San Francisco dan New York. Dalam dua tahun ini ilmu akupunktur telah merebut perhatian negara tersebut, para dokternya mulai mempelajari, menyelidiki, riset dan mempraktekannya. Di Elstein Hospital dan Massaachusset Hospital telah melakukan penyelidikan mengenai anastesi dengan akupunktur. Dr. Allen Russek dari Institute Rehabilitation and Medicine New York telah berhasil dalam pengobatan menghilangkan rasa nyeri pasien pada penderita penyakit kronis dengan akupunktur, para dokter di Michigan's Northville State Hospital juga melakukan anastesi dengan akupunktur pada beberapa pembedahan, antara lain pencangkokan kulit sampai eksisi tumor, operasi hernia, pencabutan gigi dan onsilektomi dan hasil yang dilaporkan memuaskan.

Perkembangan akupunktur di negara kita bilamana dibandingkan dengan perkembangan di negara lain, tidaklah tertinggal. Hidupnya cara pengobatan akupunktur di Indonesia setua adanya perantau Cina, mereka membawa kebiasaan dan kebudayaannya juga cara pengobatanya ke Indonesia. Hanya saja ilmu akupunktur itu hidup sebatas dalam lingkungan mereka dan sekitarnya saja, dan hanya sinshe yang melakukan praktek. Baru pada tahun 1963 Departemen kesehatan dalam rangka penelitian dan pengembangan cara pengobatan Timur, termasuk ilmu akupunktur, atas intruksi Mentri Kesehatan masa itu, Prof. Dr. Satrio, telah membentuk Tim Riset Ilmu Pengobatan Tradisional Timur. Maka mulai saat ini praktek akupunktur diadakan secara resmi di Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta yang kemudian berkembang menjadi sub bagian di bagian Penyakit Dalam, dan selanjutnya menjadi Unit Akupunktur Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo pada masa kini. Di samping memberi pelayanan poliklinis terhadap pengunjung atau penderita, Unit Akupunktur R.S. Dr. Cipto Mangunkusumo juga menyelenggarakan pendidikan untuk menghasilkan dokter ahli akupunktur baru. Akupunktur tradisional berbeda dgn akupunktur medik. Dalam dunia kedokteran,yg telah diakui adalah akupunktur medik karena telah memiliki bukti ilmiah hasil penelitian para ahli. Awalnya dokter spesialis akupunktur dikenal sebagai Dokter Ahli Akupunktur karena sekitar tahun 70-an memang belum ada jalur spesialisasi akupunktur di fakultas kedokteran. Sejak tahun 2003,pd Muktamar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yg diketuai oleh Prof.DR.F.A.Moeloek,SpOG,keahlian akupunktur disetarakan dgn spesialisasi kedokteran lain. Lalu pd tahun 2006 hal tersebut semakin diperkuat dgn ketetapan dari Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Pd tahun yg sama,IDI,melalui salah satu badannya,Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) yg diketuai Prof.DR.Dr.Biran Affandi,SpOG(K),menetapkan dokter yg mengikuti pendidikan akupunktur sebagai dokter spesialis akupunktur dgn gelar SpAK. Kolegium Akupunktur Indonesia pun disahkan sebagai salah satu bagian dari MKKI.

Kolegium adalah badan yg bertanggung jawab atas mutu pendidikan. Diharapkan,dokter spesialis akupunktur yg dihasilkan berkualitas. Pendidikan ditempuh dalam waktu yg cukup panjang,sekitar 3,5 tahun,sehingga dalam waktu singkat belum dapat mengimbangi kebutuhan masyarakat yg tinggi terhadap akupunktur medik. Oleh karena itu,atas prakarsa IDI,dibentuklah komisi kerja di bawah Kolegium Akupunktur yakni Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (P2KB). Komisi kerja itu selain bertugas mengurus sertifikasi kompetensi dokter spesialis akupunktur, juga membuka kursus akupunktur medik.

Kursus akupunktur medik yg diselenggarakan P2KB khusus utk mereka yg telah bersertifikat dokter umum. Terdapat 2 modul,yakni akupunktur dasar dan akupunktur estetika. Masing2 terdiri atas 150 jam pelajaran dan 40 jam pelajaran. Utk mengikuti akupunktur estetika harus telah lulus akupunktur dasar.

Saat kursus,selain diajarkan teknik akupunktur juga diajarkan cara menyeleksi pasien. Selain itu juga diajarkan faktor keamanan yg mengacu pd panduan yg dibuat oleh organisasi kesehatan dunia (WHO),yakni Safety in Acupuncture. Hal tersebut juga yg membedakan kursus P2KB dgn kursus akupunktur tradisional. Setelah lulus dari kursus tersebut maka para alumninya akan diberikan sertifikat kompetensi yg telah disahkan oleh Kolegium Akupunktur Indonesia. Sertifikat tersebut dapat dibawa ke Dinas Kesehatan utk mendapatkan Surat Tugas Praktik Akupunktur. Surat tugas itu merupakan nilai plus bagi para dokter yg telah memiliki Surat Izin Praktik sehingga saat dokter tersebut berpraktik nantinya mereka boleh juga mempraktikkan akupunktur. Dalam praktik dokter,akupunktur medik dapat diintegrasikan dalam terapinya,dgn memperhatikan kondisi tiap2 pasien.

Hal itu berbeda dgn para akupunturis non dokter ataupun dokter yg tidak kursus akupunktur pd badan di bawah kolegium. Bagi mereka biasanya hanya akan mendapat Surat Izin Pengobat Tradisional. Bila yg memilikinya adalah dokter maka dokter tersebut tidak boleh mempraktikkannya sebagai dokter karena izinnya berbeda. Dokter tersebut harus lepas dari identitasnya sebagai dokter,tidak boleh menggunakan alat2 kedokteran,dan hanya sebagai Batra (Pengobat Tradisional). IDI dan Dinkes hanya mengakui praktik akupunktur yg dilakukan oleh dokter yg memiliki sertifikat kompetensi dari Kolegium Akupunktur Indonesia. Saat ini kursus akupunktur yg diselenggarakan P2KB telah ada di 4 wilayah (FKUI-Jakarta,FKUNS-Solo,FK Maranatha-Bandung, RS Pirngadi-Medan). Diharapkan dengan tersebarnya tempat kursus tersebut maka akan menjangkau para dokter di daerah. 

Target utama pendidikan ini adalah pelayanan kesehatan primer seperti di puskesmas atau praktik pribadi,sedangkan di rumah sakit hendaknya yg berpraktik adalah dokter spesialis akupunktur. Hal tersebut agar sesuai dgn kompetensi sehingga pelayanan yg diberikan pd masyarakat optimal.

 

Maraji'

  • Diringkas dari http://www.acupuncturecare.com/acupunct.htm, http://tramudya.wordpress.com/2010/05/14/akupunktur/, http://www.news-medical.net/health/Acupuncture-History-(Indonesian).aspx

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran

Tutorial